Sabtu, 01 September 2018

Mulia Peranginangin Jadi Dewan Komisaris BPR Pijer Podi Kekelengen

Mulia Peranginangin Jadi Dewan Komisaris BPR Pijer Podi Kekelengen

PT BPR (Bank Perkreditan rakyat) Pijer Podi Kekelengen melaksanakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), Selasa (14/8-2018) di Training Center Yayasan Ate Keleng GBKP, Sukamakmur, Sibolangit, Deliserdang. Salah satu agenda pembahasan RUPS ini adalah pengangkatan Mulia Peranginangin sebagai Dewan Komisaris menggantikan Pdt Selamat Barus yang mengundurkan diri dan telah disetujui oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Direktur Utama BPR Pijer Podi Kekelengen, Bumaman Teodeki Tarigan  dalam sambutannya mengatakan, dengan formasi baru ini diharapkan BPR Pijer Podi akan bisa terus berkembang dan perannya di masyarakat juga semakin dirasakan. Banyak  program yang akan dilaksanakan dan akan terus dibenahi seperti peningkatan sumberdaya manusia termasuk teknologi dan  digitalisasi operasional.

Mulia Peranginangin  dalam  sambutannya usai pengangkatan menyatakan harapannya akan dukungan semua pihak. Sebagai orang yang memiliki pengalaman dalam audit dan pemasaran, dia berkeinginan ilmu dan pengalamannya dapat dibagikan di BPR Pijer Podi

Sementara itu Ketua Umum Moderamen GBKP yang juga Komisaris Utama mengatakan, BPR Pijer Podi didirikan sebagai salah satu pelayanan Gereja Batak Karo Protestan atas keterpanggilan untuk membebaskan rakyat dari ketertindasan khususnya pedagang-pedagang kecil di daerah Karo dan Medan sekitar yang terkena pinjaman modal dengan bunga sangat tinggi. Melihat realita ini pada tahun 1993 Alm. Pdt Borong Tarigan dan Dr MP Ambarita mencoba menggagas pelayanan lembaga keuangan mikro untuk menolong masyarakat. Akhirnya disepakati bahwa bank ini didirikan menjadi salah satu sarana pelayanan gereja dengan dua misi utama yaitu membebaskan masyarakat miskin khususnya pedagang kecil dari ketertindasan dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang muda.

“Misi ini masih sangat relevan sampai saat ini, kehadiran BPR Pijer Podi Kekelengen yang berkantor pusat di Desa Sukamakmur dengan 4 kantor cabang di Simpang Selayang Medan, Simpang Pos Medan, Hamparan Perak dan Berastagi melayani lebih kurang 33.000 nasabah penabung dan sekitar 7000 nasabah peminjam dengan jumlah pegawai 192 orang. Pelayanan ini adalah sebagai salah satu ikon GBKP yang berupaya terus untuk mewujudkan kehadiran Syalom bagi masyarakat sesuai dengan visi GBKP : Menjadi teman sekerja Allah membawa rahmat bagi dunia,” katanya.

Secara terpisah, Bumaman Teodeki Tarigan  mengatakan, pada awal berdirinya, BPR ini hanya memiliki modal dasar Rp. 50 juta yang dalam bentuk uang tunai hanya Rp. 28 juta. Pada saat ini  total asset perusahaan telah mencapai Rp 217 miliar, dana  yang terhimpun tabungan dan deposito  Rp193 miliar,  kredit yang dikucurkan Rp175 miliar.

Pemegang saham pengendali BPR ini adalah Yayasan Ate Keleng GBKP dengan susunan kepengurusan yaitu Pdt  Agustinus Pengarapen Purba (Komisaris Utama),  Komisaris Anggota :  Mulia Peranginangin, Ir Rido Tarigan. Direktur Utama  Pdt Bumaman Teodeki Tarigan MM , Direktur Operasional Amosi Telaumbanua SE  dan  Direktur Kepatuhan Drs Rendra Amor Ginting.

Agenda lainnya adalah penambahan pemegang saham, penambahan model disetor oleh Yayasan Ate Keleng, penegasan masa jabatan  pengurus periode 2018-2023 serta pengalihan saham. (ERP)

Selasa, 31 Juli 2018

Lahan Sawit Petani di Labusel Direplanting

Lahan Sawit Petani  Mitra Binaan Asian Agri di Labusel Direplanting

Lahan  sawit seluas157,13 hektare milik petani swadaya mitra binaan  Asian Agri di Desa Perlabian  Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara direplanting. Hal ini sesuai dengan keinginan besar Presiden Joko Widodo untuk berhasilnya program peremajaan sawit rakyat di Indonesia.
      "Syukur, replanting sudah dimulai sejalan dengan komitmen Asian Agri peduli dengan petani mitra dan mendukung program PSR (Peremajaan Sawit Rakyat) pemerintah" ujar Head Estate Departement Asian Agri Simon Sihotang di Labuhanbatu Selatan, Kamis.
      Dia yang didampingi Manager Kebun Tanjung Selamat Andi Prasetyo dan Humas Asian Agri, Lidya Veronica mengatakan itu usai penebangan pohon sawit  tanda dimulainya replanting di 157,13 hektare lahan sawit milik 79 kepala keluarga anggota Koperasi Konsumen Anugerah Jaya Mandiri Sejahtera (AJMS) di Kecamatan Kampung Rakyat.
     Menurut Simon Sihotang, dalam program  PSR yang dijalankan pemerintah dengan menggunakan dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Asian Agri sebagai "offtaker".
     Asian Agri mendampingi petani swadaya dengan memberikan penyuluhan dan pelatihan kepengelolaan kebun sawit yang berstandar.
      Simon menyebutkan, dengan replanting menggunakan bibit unggul yang dihasilkan Asian Agri, maka diharapkan, hasil produksi sawit petani bisa lebih tinggi atau mendekati hasil kebun inti generasi pertama  sekitar 23,5 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun.
      Produksi tahun pertama di kebun Asian Agri generasi kedua sekitar 15 ton per hektare dan di tahun ketiga  sudah bisa sekitar 30 ton.
      "Asian Agri sangat mengapresiasi dukungan dan bantuan semua pihak khususnya Kepala Desa Perlabian yang mendorong petani siap menjalankan PSR ,"katanya.
      Untuk PSR di Perlabian binaan PT Indo Sepadan Jaya, Asian Agri Group sudah menyiapkan bibit sekitar 23.236 dengan perhitungan satu hektare membutuhkan sekitar 148 pohon.
      "Land clearing" akan berjalan tiga bulan sehingga penanaman bisa dilakukan sekitar November 2018 dan akan menghasilkan  mulai 30 bulan setelah penanaman.
      "Kalau semua petani swadaya binaan Asian Agri sudah melakukan replanting tanaman yang sudah berumur tua atau menggunakan bibit asalan, maka produksi sawit rakyat semakin bagus,"katanya.
      Menurut dia, hingga Juni 2018, jumlah petani swadaya binaan Asian Agri mencapai 8.847 petani dengan  luasan. 32.942 hektare
       Jumlah itu tersebar masing-masing di Sumut seluas 13.574
hektare milik 3.207 petani, Riau
8.276 hektare (2.538 petani), Jambi 11.093 hektare (2.742 petani).
       "Replanting pertama di kelompok petani swadaya di Labuhanbatu Selatan diharapkan menjadi momentum bagi petani lainnya untuk mengikuti PSR. Asian Agri siap menjadi mitra petani,"katanya.
       Ketua  Koperasi Konsumen AJMS , Akmad Rizaldi Syah menyebutkan, keberhasilan replanting sawit rakyat itu sangat didorong oleh peran Kepala Desa Perlabian Irwansyah Lubis.
      "Diakui banyak yang berminat lagi ikut PSR dan koperasi terbuka menerima anggota baru yang tentunya harus juga memenuhi persyaratan,"katanya.
      Kepala Desa Perlabian Kecamatan Kampung Rakyat, Labuhanbatu Selatan, Irwansyah Lubis mengatakan sangat bahagia dengan terealisasinya program replanting sawit rakyat.
     Apalagi, kata dia,  replanting tanaman sawit di Perlabian itu merupakan yang pertama atau perdana di Labuhanbatu.
       "Petani sangat gembira dan sudah banyak petani lain yang mengaku tertarik untuk ikut program replanting bersama Asian Agri," katanya.
      Dia mengaku, awalnya petani khawatir dengan kehilangan pendapatan saat replanting, tetapi dengan dukungan Asian Agri yang antara lain akan memperkerjakan petani dalam proses PRS di lahan masing -masing, maka kekhawatiran petani berkurang.
     Petani juga masih memiliki lahan lainnya yang diharapkan untuk memenuhi kebutuhan sehari -hari sebelum lahan yang direplanting bisa menghasilkan.
      "Program yang sudah dijajaki sejak akhir 2016 sudah berhasil dan itu membanggakan. Diharapkan masyarakat lainnya tertarik untuk melakukan replanting," katanya.
       Dia menyebutkan di Desa Perlabian ada sekitar 3ribuan hektare lahan sawit yang semuanya sudah berumur tua di kisaran 36 tahun.
     Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Labuhanbatu Selatan Hj Asni Harahap menyebutkan program PSR itu awalnya diharapkan bisa terwujud mulai 2017.
      Namun karena ada beberapa kendala seperti perlengkapan administrasi di tingkat petani, maka program itu baru terlaksana 2018.
    "Disbun dan Peternakan memberi apresiasi kepada Asian Agri yang mendorong terealisasinya PSR di Labuhan Batu Selatan,"katanya
     Data dari BPDPKS mengungkapkan hingga Mei, program PSR sudah di tahap III dengan terakhir dilaksanakan di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Mei 2018 seluas 15.000 hektare.
     Sebelumnya tahap pertama dilakukan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan pada September 2017 dan yang kedua di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara pada November 2017.
      BPDPKS mengucurkan dana untuk peremajaan sebesar Rp25 juta per hektare dengan maksimal untuk dua hektare atau Rp50 juta.
      Dana itu merupakan dana sawit yang dikelola BPDPKS yang dikumpulkan dari ekspor sawit.
       Presiden Joko Widodo sebelumnya menegaskan, pemerintah menaruh harapan besar dalam program PSR untuk meningkatkan kesejahteraan petani.(Eva Rina P)

Parlindungan Purba Tinjau Drainase Sumbat

Tinjau Drainase Sumbat
Anggota DPD RI Parlindungan Purba, Senin (30/7-2018) meninjau drainase yang tersumbat di lLingkungan 16, Pasar VII Padang Bulan. Medan Selayang. Parlindungan berkunjung setelah mendengar keluhan warga yang rumahnya kebanjiran saat hujan detas turun.
Berdasarkan pantauan, di daerah tersebut banyak drainase yang disemen dan tidak ada lubang kontrol. Jadi kemungkinan besar drainase jadi tersumbat karena pendangkalan atau sampah yang menumpuk.
Parlindungan berharap masyarakat bisa diajak kerjasama  untuk kebaikan lingkungan bersama. (Eva Rina P)

Baksos Moderamen GBKP dan GKI

Moderamen GBKP dan GKI Pondok Indah  Baksos di Desa Batukarang, Karo

Kerjasama dengan GKI Pondok Indah, Jakarta,  Moderamen GBKP, Minggu (29/7) mengadakan bakti sosial (Baksos) pengobatan gratis di Desa Batu Karang, Kecamatan Payung, Karo. Pelayanan kesehatan yang diberikan adalah pemeriksaan kesehatan dini seperti penyakit mata, inspeksi saluran pernafasan dan penyakit umum lainnya.
Ratusan masyarakat tampak antusias memeriksakan kesehatannya. Berdasarkan informasi dari  tim medis Nr Rosemeri Peranginangin,  penyakit yang dominan diderita pasien yakni alergi, kulit gatal-gatal, batuk dan infeksi saluran pernafasan.
Pt Agustria Bangun yang ikut memeriksa kesehatan mengatakan, bakti sosial tersebut sangat diapresiasi karena besar manfaatnya bagi masyarakat. Dia berharap, kegiatan tersebut bisa dilaksanakan secara berkelanjutan.
Sebelumnya, pada acara pembukaan, Pdt Dormanis Pandia, Ketua Komisi Penanggulangan Bencana (KPB) GBKP mewakili Moderamen  nengucapkan terima kasih kepada GKI yang terus berkomitmen membantu GBKP memberikan pelayanan bagi masyarakat yang terkena dampak erupsi sinabung sejak tahun 2010.
Sementara itu perwakilam GKI Pondok Indah dan tim kesehatan  Anggiat  mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan  tersebut merupakan  panggilan dari Tritugas Gereja . Pelayanan yang dilakukan adalah suatu bentuk nyata dari kepedulian jemaat GKI Pondok Indah terhadap masyarakat yang terkena dampak erupsi sinabung.
“ Kita memasuki minggu Tritugas Gereja, dan apa yang kita lakukan hari ini merupakan salah satu bagian dari Tritugas Gereja, bentuk kepedulian jemaat GKI Pondok Indah terhadap sesama,” katanya.
Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt. Agustinus Purba yang dihubungi terpisah mengatakan bakti sosial yang dilakukan tersebut merupakan bentuk komitnen GBKP untuk terus melakukan pendampingan kepada masyarakat yang terkena dampak erupsi sinabung dan dilakukan tanpa memandang mereka jemaat GBKP atau tidak.
Bakti sosial ini melibatkan tenaga- tenaga kesehatan yang merupakan jemaat dari GKI, juga ikut mengambil bagian Yayasan Kesehatan GBKP dan tim posko GBKP. Turut hadir anggota Moderamen Pdt.Yunus Bangun dan Pdt Sarianto Purba. (Eva Rina P)

Menara Jubileum 125 Tahun GBKP


Pembangunan Fisik Menara Jubileum 125 Tahun GBKP

Moderamen beserta dengan panitia pembangunan Menara Jubileum 125 Tahun GBKP, Sabtu (28/7-2018) melaksanakan ibadah ucapan syukur atas pembangunan menara yang sudah berjalan dengan baik. Menara ini dibangun di komplek GBKP Kabanjahe Kota sebagai simbol peringatan Jubileum125 Tahun GBKP ( Sampainya Injil bagi orang Karo).
Sekretaris Umum Moderamen Pdt Rehpelita Ginting yang memimpin ibadah ucapan syukur tersebut dalam khotbahnya yang diambil dari 1 Samuel 7 : 12 1 mengatakan, Samuel yang menjadi pemimpin Bangsa Israel pada masa tersebut selalu mengingat dan memuji Tuhan dalam setiap momen perjalanan hidupnya dan Bangsa Israel pada masa itu. Sudah sepantasnya apa yang dilakukan oleh Samuel dicontoh oleh jemaat GBKP, dengan selalu memuji dan mengingat akan kuasa Tuhan dalam setiap momen dan peristiwa dalam kehidupanNya. Demikian juga dengan selesainya pembangunan menara Jubileum 125 Tahun GBKP yang merupakan amanat Sidang Sinode GBKP yang ke 35, jemaat GBKP wajib bersyukur dan memuji Tuhan .
Pdt Rehpelita mengharapkan kerjasama dan sinergisitas dari semua elemen yang ada di GBKP, agar nantinya pembangunan menara  setinggi 36 meter ini dapat membawa kabar baik bagi semua orang
Tentang kehidupan beriman di GBKP, Pdt Rehpelita mengajak semua yang hadir untuk “ action” dan meninggalkan perdebatan- perdebatan yang tidak bermanfaat, namun lebih mengutamakan pelayanan yang sungguh- sungguh
Ketua panitia pembangunan menara Ir BD Sinulingga mengatakan, kebaktian syukur ini adalah suatu bentuk evaluasi dan penyusunan rencana kedepan terkait dengan menara tersebut.
Dia juga menjelaskan bahwa menara akan dilengkapi dengan fasiltas penyajian data- data dari semua klasis, runggun, unit dan Biro Pelayanan GBKP yang akan disajikan pada sebuah monitor. Dengan begitu diharapkan nantinya dapat menjadi destinasi wisata di Tanah Karo.
Sementara itu Kadispora Karo Ir Robert Peranginangin mewakili Bupati Karo mengatakan, Pemerintah Kabupaten Karo sangat mengapresiasi keberadaan menara ini dan diharapkan dapat menjadi icon wisata.
Ketua Umum Modermen Pdt Agustinus Purba didampingi Pdt Rehpelita Ginting, Pdt Sarianto Purba dan Pt Jetra Sembiring mengatakan, pembangunan Menara ini merupakan suatu momentum sejarah perjalanan Injil bagi orang Karo. Pdt Agustinus juga mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai dan kerjasama semua pihak perlu ditingkatkan lagi agar  semua yang direncanakan terkait pembangunan menara tersebut dapat tercapai. “Dan nantinya menara ini bukan hanya sebagai bangunan fisik semata, namun juga dapat menjadi pusat misi yang menjelaskan tentang GBKP”, katanya.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Panitia Sidang Sinode ke 35 GBKP Setia Darma Sebayang,  Pt Ir Ananta Purba, Pt Em Timbangen Ginting, Prof Sukaria Sinulinga, BPMK dan BPMR kawasan Kabanjahe-Berastagi serta tamu undangan lainnya. (Eva Rina Pelawi)

Rabu, 18 Juli 2018

Pakai Pupuk Cair, Petani Karo Panen Jagung di Lahan Gambut 9 Ton/Ha


Pakai Pupuk Cair, Petani Karo Panen Jagung di Lahan Gambut 9 Ton/Ha 

Seorang petani di Desa Laubaleng, Kecamatan Laubaleng, Kabupaten Karo,Sumatera Utara berhasil mencetak produksi 9 ton jagung pipil kering. Capaian produksi itu merupakan tertinggi yang pernah diraih petani jagung yang menanam jagung di lahan gambut.

"Lahan yang kami tanami ini adalah lahan gambut. Sebelumnya, lahan saya ini diusahai orang lain atau disewa. Tetapi hasil yang diperoleh hanya berkisar 5ton per hektare pipil kering. Tapi setelah saya yang tanam, produksinya naik menjadi 9 ton per hektare pipil kering," kata Agian Naibaho (61), petani jagung di Desa Laubaleng, Senin (16/7-2018).

Menurut Naibaho, pada Maret lalu, dia menanam jagung seluas satu hektare dengan menggunakan benih bantuan pemerintah, yakni varietas Bisi 2 dan Bisi 18 sebanyak 17,5 kg.

Untuk pupuk dasar, Naibaho menggunakan pupuk subsidi jenis urea dan NPk Phonska masing-masing sebanyak 200 kg. Kemudian, pada saat tanaman berumur 1,5 bulan, diberikan pupuk lanjutan yakni urea dan NPK Phonska.

Hanya, takar atau dosisnya tidak sama. Urea 5 sak dan NPK phonska 3 sak (satu sak ukuran 50 kg).

"Tetapi pada umur satu bulan, saya memberikan pupuk tambahan berupa jet grow 007, berupa pupuk mikro cair yang disemprotkan pada daun. Dosisnya hanya satu liter untuk satu hektare dan itupun saya berikan sekali saja," terang Naibaho.

Dari situlah, Naibaho mengaku, produksi jagung yang diperolehnya pada panen Juni lalu sangat tinggi, mencapai 9 ton per hektare.

"Itu jagung pipil kering ya, nggak ikut tongkol. Makanya petani lain pada heran, kenapa hasil panen jagung saya bisa setinggi itu," katanya.

Usai panen, pihaknya, kata Naibaho, langsung melakukan penanaman jagung kembali. Namun, karena lahan yang digunakan adalah lahan gambut, maka sistem pertanaman dilakukan dengan cara TOT (tanpa olah tanah).

Jadi ditugal dan langsung ditanam. "Kalau lahan gambut tidak bisa ditraktor karena banyak akar atau kayu di dalam tanah. Makanya kita pakai sistem TOT," kata Naibaho sembari menyebutkan saat ini tanaman jagungnya telah memasuki umur satu bulan.

"Pemberian pupuk tetap sama tetapi untuk pertanaman kedua ini, saya akan menyemprotkan pupuk jet grow 007 sebanyak dua kali. Pertama sudah saya semprotkan saat tanaman berumur tiga minggu dan kedua nanti saat tanaman berumur 1,5 bulan," ujarnya.

Untuk varietas menurut Naibaho, dirinya menggunakan varietas bisi 226 dan itu juga bantuan benih gratis dari pemerintah.

"Saya berharap dengan penyemprotan jet grow 007 dua kali, produksi yang akan saya peroleh bisa lebih tinggi lagi," kata Naibaho yang juga menggunakan pupuk jet grow pada tanaman cabainya.

Mengenai harga jual jagung di Karo, Naibaho mengatakan, saat ini jagung petani dihargai berkisar Rp 3.100 per kg. Harga tersebut kata dia, belum sebanding dengan besarnya biaya produksi yang dikeluarkan petani. Namun, karena benih tidak dibeli dan pupuk yang diberikan juga subsidi, harga tersebut cukup memadai.

"Biaya produksi mulai tanam sampai panen dan pemipilan berkisar Rp 8,5 juta per hektare. Upah tenaga kerjanya yang mahal, berkisar Rp 120.000 per orang per hari untuk tenaga laki-laki, sedangkan tenaga perempuan Rp 80.000 per hari per orang,' jelasnya.


Minggu, 15 Juli 2018

Prof Erika Revida Saragih: Pendidikan Proses Pematangan Seorang Individu


Prof Erika Revida Saragih: Pendidikan Proses Pematangan Seorang Individu

Seorang mahasiswa/siswa  itu harus akif,  kreatif dan inovatif. Tidak tergantung pada dosen atau guru.  Perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk pengembangan diri.
Itu adalah  harapan Prof Erika Revida Saragih, seorang pendidik yang telah mengabdikan dirinya bagi perkembangan pendidikan Indonesia. Mengikuti semua jenjang pendidikan katanya adalah suatu proses pematangan seorang  individu, menimba  ilmu dan  menyerap nilai-nilai sosial lingkungannya membentuk mental dan karakter diri.
Terkait hal itu mahasiswa dan dosen  teladan FISIP USU tahun  1984 dan 1992 ini merasa sedih dan miris munculnya bisnis penjualan ijazah palsu dari universitas bodong.  Mental katanya tidak bisa dikarbit,  tidak bisa dibentuk secara instan.
Ijazah palsu katanya menggampangkan sesuatu yang efeknya sangat besar bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Dengan menggampangkan mendapat ijazah, akan mengurangi penghargaan terhadap pendidikan. Semuanya ingin menjadi serba instan tanpa mengutamakan kualitas. Situasi ini juga memicu munculnya kecemburuan.
“Pasti cemburulah orang-orang yang meraih gelar sarjana dengan bersusah payah melihat orang yang dalam sekejap tanpa mengikuti proses perkuliahan bisa mendapat gelar sarjana dan ijazah serta bisa dimanfaatkan,†ujar perempuan kelahiran Simalungun, 21 Agustus 1962 ini.
Ijazah bodong ini merupakan pelecehan dunia pendidikan, bila tidak diselesaikan secara tuntas kata Pembina Utama Madya sejak 1 Oktober 2009 ini akan jadi preseden buruk. Dalam penegakan peraturan, pengawasan harus diperketat, Dikti dan Kopertis harus jemput bola. Standar yang ditetapkan harus dipenuhi.
Dalam proses serba instan, kata  istri Dr Sukarman Purba ST MPd yang dosen Unimed ini generasi muda   akan terkontaminasi dan menimbulkan budaya malas. Hal itu saat ini mulai terlihat. Para kaum muda kebanyakan terlihat bersenang-senang. Perkembangan teknologi dimanfaatkan bukan untuk pengembangan kualitas diri. Disiplin mereka juga tergerus. Bahkan tak jarang banyak terjerumus ke dunia Narkoba atau prostitusi hanya untuk mendapatkan kenikmatan sesaat atau materi dalam waktu singkat.
 â€œPadahal seharusnya mereka harus ditempa, mengasah diri menjadi generasi bangsa yang mandiri dan berkualitas. Peran pendidik, baik guru dan dosen tetap berperan penting walaupun perkembangan dunia semaki canggih. Tatap muka tetap diperlukan,† jelas perempuan yang meraih gelar profesor pada 1 April 2005 ini.
Erika mengakui, dalam mengajar mahasiswanya, dia tetap memberikan toleransi, namun tetap bersikap tegas. Baginya nilai ujian mahasiswa adalah nomor 2, yang penting  keaktifan. Pendidikan lebih diarahkan kepada cara belajar siswa aktif, memperbanyak diskusi dan kerja makalah. Dari diskusi di ruang kelas, akan terlihat mana mahasiswa yang berwawasan atau tidak.
Dalam era globalisasi sekarang ini, kata ibu dari Deardo Chandra Vaskanus Purba ST, MT, Dearman Andri Magistario Purba SKM dan Dearni Anggita Krismayani Purba ini peran keluarga sangat dibutuhkan. Orangtua harus mengawasi anak-anaknya tapi bukan berarti mendikte. Beri kepercayaan kepada anak. Dalam kesibukan bekerja, perlu waktu untuk bercengkerama dengan keluarga, jalin komunikasi berkualitas dan tumbuhkan saling percaya. Jangan manjakan anak dengan materi.
“Diusahakan yang terbaik. Seorang ibu tetap memegang peran penting dalam perkembangan anak-anaknya. Walau sibuk berkarir di luar rumah, komunikasi harus tetap dijalin. Keharmonisan keluarga tergantung dari prioritas oleh orang tua,† kata guru besar FISIP USU Departemen Ilmu Administrasi Negara yang kerap menjadi narasumber dalam berbagai seminar.
Sebagai seorang pendidik, Erika tetap berupaya menambah ilmu dan wawasannya serta menulis karya ilmiah dan makalah untuk menunjukkan eksistensinya. Di tengah kesibukan duniawinya, ia juga tidak melupakan pemenuhan kebutuhan rohaninya dengan aktif di lingkungan GKPS dimana dia menjadi jemaatnya. (Eva RinaPelawi)

Retreat Centre GBKP Berbenah

Retreat Centre GBKP Berbenah

Menyusuri jalan menikmati udara segar mengundang rasa damai. Desiran dedaunan dari pohon-pohon rindang membuat rasa segar dan nyaman. Pemandangan indah, suasana damai dan nyaman membuat sulit melupakan daerah ini.
Retreat Centre GBKP, inilah nama tempat tersebut. RC merupakan salah satu unit pelayanan  GBKP yang  dirancang khusus untuk menyegarkan rohani dan jasmani pengunjungnya.RC berada di lokasi Taman Jubileum 100Tahun GBKP di Desa Sukamakmur,berdampingan dengan Green Hill, Hill Park.
Di lahan seluas sekira 55 Ha, pengelola telah membangun berbagai sarana  dan fasilitas untuk berbagai kegiatan pengunjung. Untuk pertemuan massal tersedia lapangan yang cukup luas, namun ada juga jambur berkapasitas untuk sekitar 700 hingga 1000 orang. Bagi pengunjung yang ingin mengadakan pertemuan sekaligus penginapan juga juga tersedia beberapa gedung dengan kapasitas yang berbeda. Seperti gedung  Hermon dan Betel berkapasitas 100 orang, yang didalamnya tersedia ruang rapat dan kamar. Ada juga gedung yang lebih kecil. Konsumen dapat memilih sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu juga disediakan cotage-cotage bagi keluarga kecil mulai dari cotage biasa hingga VIP. Harga yang ditetapkan sangat terjangkau.
Selain fasilitas  untuk  rapat dan pertemuan, juga tersedia tempat untuk retreat,  meditasi dan ibadah yakni chapel di atas bukit. Di Chapel ini pengunjung bisa berdoa dan beribadah. Pada waktu yang telah ditentukan ada waktu meditasi yang dilayani oleh para hamba Tuhan yang telah diatur jadwalnya oleh manajemen RC. Retreat juga bisa dilakukan di berbagai lokasi dengan berbagai tempat di alam  terbuka dan sunyi.
Di RC  para pengunjung juga bisa berekreasi dan santai  melepas kesibukan dan rutinitas karena ada tersedia kolam renang dan puncak salib. RC dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun hingga udaranya sangat segar. Para pengunjung terutama yang menginap tidak melewatkan kesempatan untuk berolahraga , menyusuri jalan yang sudah diaspal menghirup udara segar sambil mendengar kicauan burung dan menikmati  keindahan ciptaan Tuhan. Mendengar cipratan air tiga sungai yang ada di kawasan tersebut.
Ke depannya diprogramkan pembagian zona sesuai kapasitasnya yakni  zona keramaian, di daerah tersebut  akan dibangun berbagai permainan untuk anak dan berbagai fasilitas untuk rekreasi.  Zona semi hening untuk kegiatan rapat, pembinaan dan kegiatan resmi serta zona hening khusus untuk ibadah. Zona ini jauh dari keributan.
Direktur RC Pdt Sinar Rehaganta Barus menyebutkan,  sesuai dengan namanya retreat centre yang berarti menenangkan diri dari kesibukan dunia yang ruwet, RC Sukamakmur akan diupayakan menjadi tempat retreat yang penuh makna bagi pengunjungnya. Misi RC  menjadi tempat pembinaan dan penyegaran baik spiritual, moral, mental bagi para pelayan, jemaat dan masyarakat di tengah-tengah rutinitas harian yang menjenuhkan.  Tempat pengembangan SDM dengan membangun wawasan / pengetahuan dan skill yang mempertinggi kualitas para pelayan dan kualitas hidup jemaat.Tempat pembentukan komunitas yang menjadi pola kehidupan bermasyarakat yang damai dan sejahtera. Tempat pertemuan, seminar, training bagi para pelayan gereja, jemaat dan masyarakat.  Tempat pembinaan bagi rasa cinta terhadap budaya dan lingkungan yang pada akhirnya, kedewasaan iman akan meningkatkan kesejahteraan jemaat yang mendorong partisipasi jemaat dalam memberitakan  kabar baik di tempat mereka masing-masing. Keberhasilan RC akan bisa dilihat dari berapa banyak jemaat menemukan keteduhan jiwa  dalam pelayanan RC. Seberapa banyak hamba Tuhan merasa terbina dan panggilan pelayanannya lebih intens melalui program yang dibuat RC.
Sekaitan dengan hal tersebut katanya,  fokus pelayanan RC adalah ibadah meditasi, spiritual enrichment untuk para pendeta,  pembinaan rutin kepada pertua dan diaken serta konseling pastoral untuk jemaat yang datang. Selama 2,5 tahun terakhir ini RC sudah melakukan program rutin meditasi tiap  hari Minggu pukul 17.00 WIB. Sebelumnya dilakukan pembinaan pertua/diaken pukul 14.30 WIB. Dua kali setahun juga RC mengundang para pendeta  untuk mengikuti SEP (Spritual Enrichment Program). Acara ini semacam bengkelnya pendeta untuk  menyegarkan panggilan tugas dan pelayanan. Selain  itu dilakukan   retreat pasutri. Retreat ini ditawarkan kepada majelis gereja melalui pendeta-pendeta  atau kepada tamu-tamu RC saat datang meninjau lokasi. Acara yang ditutup dengan rekonsiliasi ini sudah menjadi  program favorit jemaat. Saat ini ada 5 orang pendeta yang direkrut RC jadi tim meditasi  yakni Pdt Krismas Barus MTh, LM, Pdt Mestika Ginting MPSi, Pdt Andohar Purba MTh, Pdt Novika br Pinem  dan Pdt Sinar R Barus MTh  serta  20 orang anak Permata yang jadi tim pemusik dan song leader tiap ibadah.
Khusus untuk kalangan muda, ditawarkan program outbond,  junggle trip keliling hutan RC dan beragam permainan. Kegiatan ini dipandu oleh orang yang terlatih memiliki sertifikat outbond nasional. Untuk menunjang  semua kegiatan,  RC  mempekerjakan 56 karyawan.
Sejarah Singkat
Berdasarkan informasi  yang diperoleh dari Pdt Usman Milala dan Pdt Selamat Barus, Retreat Centre diadakan bermula dari direncanakannya perayaan jubileum 100 tahun GBKP. Mandat diberikan kepada  Pdt Selamat Barus yang saat itu Ketua Parpem (Partisipasi Pembangunan)  dan Pdt Musa Sinulingga dari Moderamen untuk membentuk panitia dan apa yang dilaksanakan  dalam perayaan tersebut. Perayaan tersebut diharapkan bukan hanya seremoni saja, tapi ada sesuatu  yang ditinggalkan untuk gereja. Akhirnya diputuskan dibuat retreat centre sebagai tempat perayaan jubileum 100 tahun GBKP serta sarana mempersiapkan dan membina  warga gereja dalam menghadapai perubahan zaman. Hal ini dipandang perlu, mengingat saat itu terjadi perubahan  zaman ke arah globalisasi  dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Retreat Centre ini dijelaskan akan menjadi tempat  meditasi dan retreat anak-anak Tuhan agar tetap dapat mengasihi Tuhan, sesama dan lingkungan.
Saat Pdt Musa Sinulingga berkunjung ke PAK Gelora Kasih, Sukamakmur yang saat itu dilayani Pdt Usman Milala diketahui PAK memiliki lahan seluas 15 Ha. (Awalnya lahan tersebut hanya 5 Ha. Lahan bertambah  10 Ha  setelah Pdt Usman studi banding ke Panti Asuhan Salib Putih di Salatiga. Disana dia melihat panti asuhan tersebut memiliki usaha yang cukup maju. Hal tersebut juga ingin dilakukan Pdt Usman di PAK Gelora Kasih. Dan diwujudkannya dengan membeli lahan 10 Ha walaupun awalnya dengan dana pribadi. Lahan itu kemudian diusahai dengan menanam bunga, memelihara lembu hingga akhirnya terus berkembang.)
Setelah berbincang  akhirnya disepakati perayaan jubileum dilaksanakan di tempat tersebut dan anak-anak PAK bergotong royong memperbaiki jalan.  Sesuai dengan tahapan yang dibuat, akhirnya Pdt Selamat Barus  terbang ke Jerman bertemu dengan Dr Pdt Ulrich Bayer dari Gereja Westfalia dan  Dr Pdt Denberger yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris VEM (sekarang UEM) untuk Indonesia untuk memaparkan konsep retreat center yang akan dibangun. Disepakati dibuat proposal tapi dengan ketentuan dana yang diberikan untuk membangun fasilitas dan sarana  bukan untuk pengadaan tanah. Pengajuan proposal dengan sepengetahuan dan surat pengantar dari Moderamen.
Untuk pembangunan tersebut, ada 5 proposal yang diajukan secara bertahap. Proposal pertama  untuk pembangunan cotage dan jambur RC. Dalam pembangunan tersebut, 4 sekawan bekerjasama  dan  saling bahu-membahu yakni Pdt Selamat Barus sebagai penghubung dengan Jerman untuk pengadaan dana, Pdt Borong Tarigan sebagai pengawas dan pelaksana pembangunan, Pdt Musa Sinulingga sebagai konseptor pembangunan dan pembuat visi misi RC serta Pdt Usman Milala yang menyediakan lahan dan turut serta dalam pengawasan.
Pada tahun 1988 diadakan  pencanangan peringatan  jubileum  100 tahun GBKP dan kebaktian peresmian taman jubileum . Sebelumnya telah dibangun tugu  yang merupakan tema jubileum 100 tahun GBKP “Ini Aku, Utuslah Aku” yang bermakna  persatuan dan kebersamaan jemaat dalam membangun gereja.
Seiring dengan perkembangan, RC terus berkembang hingga kini sudah memiliki lahan yang cukup luas dengan berbagai sarana diatasnya. Pdt Selamat Barus berharap RC tetap berada dalam visi misinya sebagi membina dan mempersiapkan jemaat dalam menghadapi era teknologi agar bisa tetap mengasihi Tuhan, mengasihi sesama dan menjaga kelestarian lingkungan.(Eva Rina Pelawi)

Kamis, 10 Mei 2018

Perayaan Paskah GBKP 10 Klasis Medan Sekitar Dihadiri Ribuan Jemaat


Perayaan Paskah GBKP 10 Klasis Medan Sekitar Dihadiri Ribuan Jemaat

Pdt Agustinus Purba : Kekristenan Tidak Bisa Dinilai dengan Materi

 

Jadi Kristen tidak bisa dinilai dengan materi. Kehidupan dalam berkemenangan sudah diberikan Tuhan. Sekarang tinggal kita bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sebagai anak yang sudah memperoleh anugrah. Kita berjuang sebagai saksi Kritus yang telah mengorbankan diri-Nya agar yang percaya memperoleh kehidupan kekal.

Demikian disampaikan Pdt Agustinus P Purba , Ketua Umum Moderamen GBKP pada perayaan Paskah GBKP 10 Klasis Medan Sekitar, Jumat (20/4-2018) di Pondok Daud Solagratia, Durin  Simbelang, Deliserdang. Disebutkan, maut, kuasa kematian tidak lagi berkuasa karena Yesus telah bangkit dari kematian. Paskah merupakan pesta dari segala pesta. Kuasa kegelapan saat ini selalu menggoda  agar anak-anak Tuhan goyah.

“Kekristenan terus mendapat tantangan, diganggu dan dilarang beribadah. Tapi itu jangan membuat kita goyah dan takut. Sebagai pengikut Kristus kita memperoleh kemenangan. Jangan ragu, tunjukkan iman kita. Ada kebangkitan bagi orang yang percaya,” katanya.  

Pada kesempatan itu, Pdt Agustinus mengapresiasi Permata (Kumpulan kaum muda) dan KAKR (Kebaktian Anak Kebaktian Remaja) GBKP  Klasis Lubukpakam  dan Pancurbatu yang berperan dalam acara tersebut dengan melakonkan drama penderitaan Yesus .

Dia mengharapkan potensi anak Permata dan KAKR terus dibina. Dengan kreatifitas yang ada, para Permata tersebut  bisa berbagi dan bekerja  sama dengan Permata yang ada di Karo. Dengan demikian mereka bisa terhindar dari pergaulan negative seperti pengaruh penyalahgunaan Narkoba. Kepada orangtua juga diharapkan agar lebih perhatian kepada anaknya, ajarkan kasih.

Usai kebaktian Ketua Penasehat GBKP 10 Klasis Pt Em Timbangen Ginting dalam sambutannya mengatakan, gabungan 10 klasis dibentuk agar terjalin koordinasi dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Selain itu terjalin silaturahmi, hingga pelayanan gereja bisa juga ditingkatkan. Ke depan dia berharap, semua kegiatan 10 Klasis bisa lebih baik lagi.

Ketua Panitia Pdt Steven Kumenit didampingi panitia lainnya Pt Jetra Sembiring, Pt Hotman T Saragih dan Pt Levina Peranginangin dalam sambutannya mengatakan, perayaan Paskah bukan hanya menunjukkan kebangkitan Kristus, tapi lebih dari itu,  kuasa Allah dalam Kristus  tidak bisa  dikalahkan oleh kuasa apapun, termasuk kuasa setan. Kuasa kematian yang ditakutkan manusia dan dunia telah dikalahkan kuasa Allah. Yesus telah bangkit. Kuasa kebangkitan Yesus inilah yang menyelamatkan manusia. Sebagai orang yang telah menang, kita harus menjadi berkat dalam  semua bidang, termasuk politik. Kita juga harus kerja sama dengan  pemerintah dan masyarakat.

Pdt Kumenit mengharapkan, melalui perayaan Paskah ini, iman jemaat semakin dikuatkan dan dewasa.

Sementara anggota DPD RI Parlindungan Purba yang hadir dalam kegiatan tersebut juga mengajak semua hadir untuk meningkatkan silaturahmi. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dia juga mengingatkan, agar menjauhi penyalahgunaan Narkoba yang saat ini banyak korbannya. “Bila tersentuh Narkoba, akan sulit untuk pulih kembali,” katanya.

Dia mengajak semua pihak yang berkompeten untuk meningkatkan penyuluhan bahaya penyalahgunaan Narkoba. Keluarga adalah yang terdepan sebagai benteng menangkal pengaruh negative Narkoba.

Moderamen GBKP yang diwakili Sekum Pdt Rehpelita Ginting dalam sambutannya mengajak, umat GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) jangan mau dipecah belah. Jangan gampang terprovokasi oleh hasutan atau berita apapun. GBKP tetap satu.

            Disebutkan, dalam situasi jelang pilkada sekarang ini, kita harus waspada, jalin persatuan dan kesatuan. Sebagai umat Kristen, harus menunjukkan sikap positif dan jadi saksi.

            Pdt Rehpelita mengajak jemaat untuk menggunakan hak pilihnya pada pemungutan suara pada Juni mendatang. Gunakan sesuai dengan hati nurani dan berdoa sebelum memilih.  

Drama

Sebelumnya drama sengasara Yesus mulai dari penyiksaan hingga disalibkan di Bukit Golgota yang diperankan anak KAKR dan Permata GBKP  Majelis Klasis Lubukpakam dan Pancurbatu mulai dari Pajak Pancur Batu hingga Pondok Daud Solagratia, Durin  Simbelang, Deliserdang mengundang iba dan airmata masyarakat yang menyaksikan. Bagaimana Yesus yang tidak bersalah, dipukuli dan dicambuk untuk menebus dosa manusia.

Terlihat drama tersebut  dilakonkan dengan penuh perasaan oleh Permata dan anak KAKR sesuai dengan peran mereka masing-masing.(Eva Rina Pelawi)

 

 

 

 

 

Sinabung... Oh Sinabung


Sinabung...oh Sinabung

 

 

Erupsi  Gunung Sinabung  di Karo sudah berlangsung lebih kurang 8 tahun  sejak 2010. Hingga kini, erupsi masih sering terjadi. Sinabung yang dulu terlihat indah, kini gersang. Masyarakat yang dulu berada di kaki Gunung Sinabung hidup sejahtera dari hasil pertanian, sebagian besar kini harus pindah tempat tinggal dan relokasi ke beberapa daerah.

Pada Senin,  19 Februari 2018 Sinabung kembali menyita perhatian masyarakat karena letusannya yang cukup dahsyat. Letusan yang terjadi pada pagi hari tersebut disebutkan merupakan letusan terbesar dibanding letusan-letusan sebelumnya.  Tinggi letusan diperkirakan mencapai 5.000 meter dari puncak Gunung Sinabung. Menyusul letusan, awan panas meluncur mencapai jarak 4,9 Km ke arah sektor selatan-tenggara dan 3,5 Km ke arah timur-tenggara. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dampak dari awan panas ini terpantau masih berada di kawasan yang disterilkan. Setelah itu debu vulkanik terbang ke arah barat mengikuti tiupan angin.

Warga sebelumnya yang sudah mulai terbiasa dengan letusan-letusan kecilnya, dipanikkan dengan suara gemuruh  yang cukup dahsyat. Para pelajar yang sedang  asik belajar, berlarian, menjerit, menangis ketakutan oleh hujan debu, pasir dan batu yang dikeluarkan Sinabung. Para warga berupaya menyelamatkan diri. Beberapa desa  jadi gelap gulita  karena sinar matahari tertutup oleh tebalnya debu Sinabung yang melambung tinggi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Karo mencatat ada lima kecamatan yang terpapar debu vulkanik Gunung Sinabung antara lain Kecamatan Tiga Nderket, Payung, Munthe, Lau Balang, dan Namanteran. Kecamatan paling terdampak debu vulkanik ini terjadi di Kecamatan Tiga Nderket dan Kecamatan Payung.

Sejak akhir tahun 2017 tidak ada lagi  masyarakat yang berada di pengungsian sesuai dengan perintah Presiden Jokowi saat berkunjung ke Kabupaten Karo. Warga yang tidak bisa kembali lagi ke desanya karena masuk zona merah, ada yang direlokasi, ada yang berada di daerah hunian sementara, ada yang mandiri dan lainnya.

Walaupun masyarakat tidak ada lagi di posko pengungsian, namun kehidupan ekonomi mereka sangat terpuruk, terlebih setelah erupsi 19 Februari. Tanaman pertanian  seperti tomat, cabai hancur ditimpa debu Sinabung. Tanaman tua terlihat gersang.

Beberapa warga yang ditemui penulis di  Desa Tiga Nderket antara lain Pt  Budi Sitepu/Arihtati Br Bangun menyebutkan, perekonomian warga sangat rendah, daya beli kurang karena tanaman mereka banyak yang hancur pasca erupsi. Masyarakat juga merasa tersandera untuk melakukan suatu aktivitas dalam jangka panjang karena trauma. Untuk membangun rumah atau lainnya masyarakat sepertinya enggan karena  ketakutan akan erupsi Sinabung.

Untuk bercocok tanam, warga mau tak mau harus menanam untuk menyambung hidup. Pasrah akan apapun yang terjadi seperti yang dikatakan Indro yang ditemui di ladangnya saat menanam bawang merah. Dikatakan, penghasilannya sangat turun drastis akibat erupsi Sinabung.  Tanaman hancur karena terkena debu Sinabung.

Warga berharap, pemerintah atau pihak yang peduli bisa memberikan bantuan pertanian seperti bibit unggul dan pupuk.

Melihat  penderitaan warga, banyak bantuan  kemudian disalurkan ke desa-desa yang terdampak erupsi Sinabung, baik oleh pemerintah, perusahaan swasta tak ketinggalan gereja termasuk GBKP yang selama ini tetap berkecimpung melayani warga.

Ketua Komisi Penanggulangan Bencana GBKP Pdt Dormanis Pandia menyebutkan, bantuan-bantuan yang diterima GBKP langsung disalurkan ke desa-desa terdampak Sinabung. Bantuan yang sudah diserahkan antara lain ke Desa Batukarang, Jandimeriah,  Tiga Nderket, Perbaji, Tanjung, Kutambaru, Susuk dan Temburun. Bantuan diserahkan juga kepada jemaat yang tidak pernah mengungsi.

“Mereka memang tidak pernah mengungsi, tapi pertanian mereka rusak oleh debu Sinabung. Kehidupan perekonomian warga cukup memprihatinkan. Saat penyerahan bantuan di Desa Batukarang, warga menangis. Mereka yang selama bekerja di ladang sendiri harus pergi “ngemo’ ke desa lain karena ladang mereka tidak lagi menghasilkan,” katanya.

Logistik yang disalurkan berupa 10 kg beras, 2 kg gula, 1 liter minyak goreng.

Kabid Diakonia Moderamen GBKP Pdt Rosmalia Barus selaku Ketua Posko Penanggulangan Bencana GBKP  bersama Kabid Dana dan Usaha Dk Khristiani Br Ginting selaku bendahara posko dan Pdt DS Pandia saat menyerahkan bantuan di Desa Susuk, Selasa, 20 Maret 2018 menyatakan, Moderamen cukup prihatin dengan kehidupan masyarakat di desa  terdampak Sinabung. Bantuan yang disalurkan cukup sederhana, namun diharapkan bisa membantu jemaat. Dalam susana susah, jemaat diharapkan tetap tegar, iman dan pengharapan tidak kurang. Jadi saksi Kristus untuk lingkungan sekitar.

“Komunikasi juga diharapkan  tetap terjalin, bila ada perlu penanganan khusus, disampaikan kepada runggun gereja untuk mencari solusi,” kata Pdt Rosmalia.

Selain menyalurkan bantuan, GBKP bekerja sama dengan pemerintah, lembaga atau instansi yang peduli dengan korban Sinabung membuat berbagai aksi seperti trauma healing dan pemeriksaan kesehatan terutama   bagi anak-anak yang merupakan generasi  penerus bangsa. Trauma healing  dilaksanakan antara lain di Desa Batukarang, Payung, Jandi Meriah, Sukatendel dan Rimokayu. Pemerhati Anak Kak Seto dari Jakarta juga hadir  di Desa Batukarang dan Jandi Meriah untuk menghibur dan memotivasi  anak-anak dan para pelajar pasca erupsi 19 Februari untuk tetap semangat. GBKP juga membuat posko anak sehat lingkar Sinabung untuk menolong anak-anak untuk hidup lebih sehat.

Untuk menggalang kepedulian kepada korban Sinabung, Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba juga menyampaikan paparannya terkait situasi Sinabung terkini dan kehidupan warga di sekitarnya pada Workshop Perencanaan Strategis Menyikapi Kebijakan BODT dan Bencana Sinabung yang diselenggarakan UEM di Sopo Toba, Tomok pada 27 Februari-1 Maret 2018. Di situ dijelaskan antara lain ada 110 desa di 10 kecamatan yang terdampak abu vulkanik, lahar dingin.  Tatanan pertanian, infrastruktur dan fasilitas umum rusak,  pendidikan terganggu. Sebagian masyarakat mencari solusi dengan mengabaikan aspek lingkungan hidup. Selain itu, Moderamen juga membuat gerakan Rp10 ribu/kepala keluarga.

Pada akhirnya Moderamen  berterima kasih atas berbagai bantuan yang sudah mengalir dan tetap mengharapkan kepedulian berbagai pihak untuk membantu warga korban erupsi Sinabung.  Melala kalak erdiate la ban galangna tapi terakap man sideban. (Eva Rina Pelawi)

Minggu, 22 April 2018

Peringatan HUT Ke-128 GBKP, Tunjukkan Identitas Pengikut Kristus

Peringati HUT ke-128

Moderamen GBKP dan Jemaat Ziarah ke Makam Pekabar Injil di Sibolangit

Peringatan HUT ke-128 GBKP, Rabu (18/4-2018) diawali dengan ziarah ke makam pekabar Injil ke masyarakat Karo di Taman Marturia GBKP dan kebaktian  di GBKP Runggun  Sibolangit. 

Dengan tema : Tetap  Menabur Berita Keselamatan  yang diambil dari Masmur 126 : 1-6, Ketua Bidang  Pembinaan Moderamen GBKP Pdt Yunus Bangun dalam khotbahnya mengatakan,  Bangsa Israel bebas dari penjajahan Babil bukan karena kekuatannya tapi karena kuasa Tuhan. Yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Tuhan. Yang penting ada iman pengharapan. 

Demikian juga dengan tokoh pekabar Inil dulu,  disebutkan karena panggilan, mereka rela meninggalkan zona nyaman  dan mengabarkan Injil kepada masyarakat Karo. Walau mereka menderita menghadapi berbagai tantangan namun mereka terus bekerja karena ada panggilan.  Mereka meyakini,  yang mereka kerjakan tidak akan sia-sia tetapi akan berbuah di masa depan. "Dan memang benarlah,  warga Karo kini telah mengenal Tuhan, " katanya. 

Masa sekarang ini,  katanya,  kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus harus terus memberitakan Injil,  menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.  Banyak cara dan metode yang dilakukan dalam menyampaikan berita kesukaan. 

Gereja disebutkan,   hidup bukan hanya untuk gereja tapi untuk terang dunia. 

Sementara itu Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba dalam sambutannya mengatakan,  pengorbanan pekabar Injil tidak sia-sia,  masyarakat Karo telah menerima berita keselamatan. Perjuangan pekabar Injil dahulu yang menghadapi berbagai tantangan seperti kondisi daerah yang masih terbelakang, budaya yang sangat berbeda dengan daerah asalnya, sifat orang yang dilayani sangat keras harus menjadi motivasi bagi pelayan Tuhan sekarang ini. Bekerja hanya untuk kemuliaan Tuhan. 

"Dengan memandang perjuangan pekabar Injil tersebut,  mutasi di gereja seharusnya tidak jadi permasalahan lagi, " katanya. 

Pdt Agustinus juga mengajak semua warga gereja untuk merenungkan perjalanan gereja Tuhan.  GBKP 128 tahun,  bagaimana sudah kualitas iman jemaat dan perkembangan  dan partisipasi jemaatnya. memberitakan Injil katanya merupakan tugas semua orang yang percaya.  Karena itu identitas sebagai pengikut Kristus harus ditunjukkan. 

Pada  kesempatan itu dilakukan tiup lilin dan pemotongan "tumpeng cimpa matah" oleh Ketua Umum Moderamen didampingi Sekum Pdt Rehpelita  Ginting dan Moderamen lainnya serta dibagikan kepada pengurus unit pelayanan dan kategorial.

Pada hari yang sama,  juga dilaksanakan seminar tentang sampainya berita keselamatan kepada orang Karo dengan narasumber Pdt Mehamat Wijaya Tarigan dan Pdt Kongsi Kaban di Kantor GBKP Klasis Sibolangit. Kedua narasumber memaparkan tentang perjuangan pekabar Injil  dari Belanda dan Sulawesi Utara kepada masyarakat Karo. 

Sementara itu panitia yang diwakili Pdt Surya Sembiring dan Pdt Lisa mengatakan, sebagai rangkaian  perayaan HUT ke128 GBKP, pada 20 April mendatang dilaksanakan aksi kebersihan di seluruh GBKP.  (Eva Rina Pelawi)

Minggu, 17 Desember 2017

GBKP Diminta Terbitkan Buku Putih Pengungsi Sinabung


Kunjungi Pengungsi Sinabung, UEM Minta GBKP Terbitkan Buku Putih Kehidupan Pengungsi Sinabung

 

GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) diminta untuk menerbitkan buku putih tentang situasi dan kondisi pengungsi korban erupsi sinabung yang hingga saat ini belum tertangani dengan baik.  Buku itu akan disampaikan kepada semua instansi terkait dan juga Presiden Jokowi yang mungkin belum mengetahui kondisi ril di lapangan.

Hal itu disampaikan Moderator UEM (United Evangelical Mission) Ephorus Emeritus Pdt  WTP Simarmata  bersama pimpinan gereja anggota UEM di Sumatera Utara  di Kantor Moderamen GBKP di Kabanjahe seusai perkunjungan solidaritas ke posko pengungsian korban erupsi Sinabung Terung Peren Desa Tiganderket,  Karo, Jumat (15/12-2017). 

“Kita akan upayakan bertemu pimpinan instansi terkait dan anggota legislative dari berbagai tingkatan menjelaskan kondisi sebenarnya tentang para pengungsi tersebut. Karena apa yang dialami para pengungsi sangat memilukan. Para pengungsi disuruh mencari rumah sendiri dan mandiri dengan dana terbatas. Ini mungkin Presiden Jokowi tidak tahu. Mereka seperti Abraham disuruh Tuhan pergi tapi tak tahu mau kemana,” kata Pdt WTP.

Pdt WTP bersama  Ketua Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba,  Ephorus GKPS Pdt Rumanja Purba, Ephorus HKI Pdt M Pahala Hutabarat, Kepala Departemen Diakonia HKBP Pdt Debora Sinaga, Kepala Departemen Diakonia GKPI dan perwakilan Pimpinan GKPPD dan BNKP serta Kepala Kantor UEM Medan Pdt Petrus Sugito menyatakan keprihatinannya melihat kondisi tenda-tenda tempat tinggal 276 kepala keluarga dari Desa Mardinding yang dinilai tidak layak huni, fasilitas umum yang tidak memadai seperti kondisi toilet dan air  yang dimanfaatkan untuk minum mengeluarkan bau belerang.

Sekaitan dengan itu,  Pdt WTP Simarmata mengajak semua  gereja anggota UEM untuk memanfaatkan chanel yang dimiliki untuk membantu  mengatasi permasalahan masyarakat pengungsi Sinabung. 

Dikesempatan itu Kabid Diakonia Moderamen GBKP Pdt Rosmalia Barus menceritakan sejak awal kehidupan para pengungsi dan  situasi terkini yang dihadapi oleh masyarakat.  Para pengungsi yang telah menyewa rumah sendiri terus dipantau melalui pendeta-pendeta yang ada di tengah jemaat. Dia juga menyebutkan perlunya dibuat Perda oleh Pemkab dan DPRD Karo tentang penanggulangan bencana. Dengan adanya Perda tersebut,  jadi jelas penangan bencana.

Bantuan

Pada perkunjungan itu disampaikan, UEM  telah mengalokasikan  dana 20.000 Euro untuk pengungsi dan diserahkan sejumlah bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, buku, kaus kaki untuk perlengkapan sekolah serta sejumlah uang tunai dari gereja.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari  seorang pengungsi Pt Ahmad Jani Singarimbun,  di pengungsian tersebut  ada 276 keluarga yang  berasal dari Desa Mardingding .Keluarga-keluarga ini sudah tinggal di tenda-tenda pengungsian tersebut selama  2 tahun  6 bulan. Sejak 2010 mereka sudah mengungsi berpindah-pindah tempat dan sempat kembali ke desa mereka, namun harus mengungsi lagi karena Gunung Sinabung terus erupsi hingga kini.

Pada pertemuan tersebut, perwakilan  pengungsi menyatakan keresahannya karena akhir tahun ini mereka harus meninggalkan posko dan mencari tempat tinggal sendiri. Pemerintah telah memberikan dana Rp6,4 juta untuk sewa rumah dan lahan. Sementara mereka tidak tahu bagaimana untuk mencukupi kebutuhan hidup termasuk membiayai pendidikan anak mereka. Saat ini mereka ada yang bekerja di ladang orang dan ada yang mengontrak ladang.

“Tanggal 26 Desember adalah  Natal terakhir kami bersama, setelah itu kami harus berpisah mencari tempat tinggal kami masing-masing. Saya sedih bagaimana nasib anak-anak kami,” kata  Hermina Br Karo sambil berurai airmata.

Untuk ke depannya, mereka berharap kiranya mereka tetap diperhatikan untuk pendidikan,  diberi pendampingan seperti bidang pertanian  dan spiritualitas. Perhatian juga diharapkan diberikan kepada warga yang desanya terdampak erupsi seperti pembangunan irigasi agar mereka bisa menanam padi. Saat ini mereka kesulitan karena irigasi tidak berfungsi maksimal karena dihantam banjir lahar dingin.

Ketua Moderamen  Pdt Agustinus Pengarapan Purba dalam sambutannya mengatakan, gereja akan terus berada di tengah masyarakat dan tetap peduli.  Untuk memenuhi kebutuhan hidup, harus ada yang diprioritaskan, mana yang paling urgen ditangani. Untuk menolong warga, tidak cukup hanya satu lembaga yang menangani, karena itu akan tetap dicari lembaga-lembaga lain yang ikut peduli terhadap pengungsi sinabung. Banyak cara Tuhan untuk menolong.Sementara saat ini,  gereja memperioritaskan bantuan dana yang ada untuk menutupi biaya pendidikan anak-anak pengungsi seperti pembayaran uang sekolah/kuliah, penyusunan skripsi dan lainnya.

Sementara itu Pdt WTP Simarmata dalam sambutannya menyebutkan, kunjungan mereka sebagai bentuk solidaritas UEM  yang berpusat di Jerman dan melayani di 3 benua yakni Eropa, Asia dan  Afrika untuk saling mendoakan, bersaksi dan berbagi. Karena dalam kebersamaan ada kekuatan. Walau ada perbedaan harus saling menghormati, perbedaan bukan untuk menciptakan konflik tapi melengkapi.

Pdt WTP mengajak semua warga pengungsi untuk tetap kuat dan tabah dalam menghadapi percobaan. Tuhan mengizinkan erupsi terjadi karena  Dia ingin kita semakin dekat dengan-Nya. Dalam berbagai cobaan, Dia memberi kekuatan agar umat-Nya bertahan. Orang yang sukses, mereka yang berhasil menghadapi tantangan.  Perlu kesabaran.Tuhan tidak akan meninggalkan masyarakat Karo.

Dia juga menyebutkan, akan membawa permasalahan pengungsi sinabung dalam rapat dan kegiatan UEM yang dalam waktu dekat dilaksanakan.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, Pdt WTP mengajak kaum ibu bijak. Jangan putus asa, doanya pasti akan didengar Tuhan.

Turut memberi kata penguatan Pdt Rumanja Purba dan Pdt Debora Sinaga.(Eva Rina Pelawi)

 

 

 

 




Gereja Tidak Berpolitik Praktis


Natal GBKP 10 Klasis Medan Sekitarnya Meriah

 

Ketua Moderamen GBKP : Gereja Tidak Terlibat Dukung-mendukung Peserta Pilkada

 

Lubukpakam

GBKP secara instituisi tidak terlibat dalam dukung-mendukung  salah satu calon dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan legislatif.Gereja berperan memberi pencerahan kepada jemaat. GBKP  berkiprah dan berkarya dalam mendukung pemerintah dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). GBKP tidak berpolitik praktis.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus P Purba dalam sambutannya saat perayaan Natal Koordinasi GBKP 10 Klasis Medan Sekitarnya, Minggu (3/12) di Openstage, Lubukpakam. Disebutkan, GBKP sesuai dengan visinya menjadi berkat bagi dunia, menyuarakan suara kenabian menjadi garam dan terang.  Bagi anggota gereja yang ikut berkompetisi dalam pemilihan hendaknya bisa menjaga identitas sebagai anak-anak Tuhan. Jadi nantinya siapapun  yang terpilih jadi kepala daerah, hendaknya jadi pemimpin yang berjuang untuk kesejahteraan warganya. Pertanggungjawabannya kepada Tuhan

Sementara itu Pdt Rehpelita Ginting yang jadi pengkhotbah dalam perayaan Natal tersebut mengatakan, banyak orang yang bangga akan jasa-jasanya dan kemampuannya. Dia mengandalkan kekuatannya. Orang yang demikian tidak akan mampu melihat dan mengerti karya Allah dalam kehidupannya.

“Dan kita jangan lupa, karya dan perbuatan  itu tidak akan mampu menyelamatkan kita. Hanya melalui Kristuslah keselamatan ada,” kata Pendeta, yang juga Sekretaris Umum Moderamen ini.

Sesuai dengan tema “Yesus Kristus  Kepenuhan Rahasia Allah yang Disingkapkan Bagi Manusia (Bandingkan Roma 16:25-27) dan subtema : Pemahaman akan kehendak Allah memampukan gereja menyukseskan tahun politik dan memperbaharui hubungan dengan seluruh ciptaan,” Pdt Rehpelita menyebutkan, Kristus lahir untuk keselamatan umat yang percaya. Rahasia Allah disingkapkan, kabar kesukaan bagi yang mau menerima.

Sekaitan dengan tahun politik yang dicanangkan GBKP tahun depan disebutkan,   dalam memilih kita harus benar-benar selektif. Jangan hanya karena suatu pemberian, langsung dipilih walaupun kita tahu dia bersama.

“Itu sering terjadi dalam pemilihan pertua/diaken di gereja. Sudah tahu bermasalah tetapi dipilih juga. Akibatnya ke depan banyak permasalahan yang terjadi. Jadi ke depannya, jangan dipilih yang bermasalah,” katanya.

Natal dengan Liturgis  Pdt Bandri S Sembiring dan  Pdt Mart Erkelinna Br Tarigan tersebut  diisi dengan pemasangan lilin yang dilakukan antara lain Ketua Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba, Pengkhotbah Pdt Rehpelita Ginting, Pdt Maslan Sitepu, mewakili Bupati Deliserdang Haris Binar Ginting, Bupati Simalungun JR Saragih, Ketua Panitia Pdt Darius Sembiring dan lainnya. Selain itu juga ditampilkan koor Moria, Mamre, pantomim dengan tema Allah menciptakan dan drama Kelahiran Kristus yang dibawakan oleh Permata (Kaum Muda ) GBKP Klasis Lubukpakam dengan kreatif.

                Bupati Simalungun JR Saragih yang hadir pada kesempatan tersebut dalam kata sambutannya menyatakan kekagumannya melihat peran kaum muda gereja yang mewarnai acara kebaktian, yang membuat warna Natal tersebut berbeda  dengan Natal yang selama ini disaksikannya. JR berharap, generasi muda terus dibina, diberi ruang kreasi agar mereka bisa terus bertumbuh. Karena gereja tanpa generasi muda akan mati.

                Sementara itu Ketua Koordinasi GBKP 10 Klasis Medan Sekitar Pt Em Timbangen Ginting mengatakan, perayaan Natal tersebut dilaksanakan untuk hanya untuk kemuliaan nama Tuhan dan menunjukkan eksistensi GBKP dalam naungan Moderamen. Sedangkan Ketua Panitia Perayaan Natal Pdt Darius Sembiring didampingi Pt Jetra Sembiring dan Bendahara Levina Peranginangin mengungkapkan rasa syukur  karena Natal berlangsung hikmat dan cuaca juga sangat mendukung.

Acara Natal yang dihadiri ribuan jemaat yang datang dari Deliserdang, Medan, Binjai dan Langkat diawali dengan prosesi para pendeta dengan panitia  dimeriahkan dengan hadirnya artis Lyodra Br Ginting dan Trio Alan Dhani Sitepu serta lucky draw dengan berbagai hadiah.(Eva Rina)

 

 

Jumat, 01 Desember 2017

Natal GBKP 10 Klasis Medan Sekitar

3 Desember Natal GBKP 10 Klasis Medan Sekitar di Lubukpakam

Medan

Memperingat hari kelahiran Kristus,  GBKP 10 Klasis Medan sekitarnya merayakan Natal di Open Stage Lubukpakam,  Minggu (3/12-2017).

Ketua Panitia Pdt Darius Sembiring didampingi Sekretaris Pt Jetra Sembiring dan Ketua Klasis Lubukpakam Pdt Bandri Senja Sembiring kepada wartawan,  Jumat (1/12) di Medan mengatakan,  perayaan Natal ini selain memperingati kelahiran Sang Juru Selamat,  juga untuk menjalin silaturahmi jemaat GBKP Medan sekitar dan persiapan pencanangan tahun gereja yang akan dilaksanakan awal tahun 2018. 

Dijelaskan,  dari perayaan Natal diharapkan jemaat semakin menyadari perannya di tengah gereja dan negara  dalam bingkai NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia).  Menjadi pembawa  damai dan saksi Kristus di tengah masyarakat  dan melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai tema perayaan  : Yesus Kristus  Kepenuhan Rahasia Allah yang Disingkap Bagi Manusia (Bandingkan Roma 16:25-27). Subtema : Pemahaman akan kehendak Allah memampukan gereja  menyukseskan  tahun politik dan memperbahurui hubungan dengan seluruh ciptaan.

Pdt Rehpelita Ginting yang juga Sekretaris Umum Moderamen akan dihadirkan menjadi pengkhotbah dan penyampai pesan Natal.

Perayaan Natal katanya direncanakan  dihadiri sekitar 4000 jemaat yang datang dari berbagai daerah antara lain dari Langkat,  Binjai,  Medan,  Deliserdang dan Serdang Bedagai.  Acara akan diisi dengan berbagai pujian bagi Kristus  yang ditampilkan anak-anak Tuhan yang telah  berlatih cukup lama.  Selain itu akan dihibur oleh artis Liyodra Br Ginting. Trio Alan Dhani Sitepu dan lainnya. (Eva R Pelawi)


Kamis, 23 November 2017

Peringatan HUT Ke-60 GBKP Rg Tanjung Merawa Kanan

GBKP Rg Tanjung Merawa Kanan Rayakan HUT ke-60
Ketua Moderamen : Nilai Hidup Bukan Panjang Pendeknya Umur, Tapi Bermanfaat Bagi Orang Lain

HUT ke-60 GBKP Rg Tanjung Morawa Kanan, Klasis Lubuk Pakam, Minggu (27/8-2011) diperingati dengan sederhana namun meriah di Jambur GBKP Rg Tanjung Merawa Kanan di Jalan Limau Manis, Deliserdang. Tema acara: Buat Bagindu Ibas Dahin-dahin Gereja

Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba dalam khotbahnya yang diambil dari Roma 12:3-8 mengatakan, Paulus menyerahkan hidupnya untuk Tuhan. Dia sadar semua yang dilakukan dan dihadapinya karena kemurahan Allah. Hanya orang sadar akan anugrah Tuhan bisa berserah. Kasih karunia menjadi dasar umat Kristen. Ada ketulusan dalam pelayanan dan pekerjaan Tuhan.jauhkan pikiran duniawi untuk pelayanan, tetapi semua untuk menyenangkan  hati Allah semata.
Dalam kehidupan dunia sekarang yang penuh dengan tantangan ini, kata Pdt Agustinus, kita semua perlu terus belajar supaya tidak terjebak pengaruh dunia. Dalam melakukan pekerjaan, lakukan dengan tulus, jangan bersungut-sungut.
“Apapun yang kita lakukan hanya semata untuk Tuhan. Paulus mengingatkan ibadah yang sejati, persembahkenlah dirimu sebagai persembahan yang hidup.  Bukan sesuatu yang menjijikkan. Orang yang dibenarkan oleh iman akan hidup. Jaminan kehidupan bagian terpenting bagi yang beriman,” jelasnya.
Ibadah sejati disebutkan, sepenuhnya  menyerahkan diri untuk Tuhan. Bertemu dengan kasih karunia Allah dimungkinkan dalam setiap sisi kehidupan. Beribadah tidak dibatasi ruang dan waktu. Ibadah sejati menjadi tantangan karena kita kurang serius, tidak fokus. Sebagai contoh, saat kebaktian minggu, datang terlambat, pulang duluan. Ibadah tidak selesai ketika kebaktian minggu berakhir. Tapi semua proses kehidupan yang kita jalani merupakan ibadah. Termasuk mengambil bagian dalam pekerjaan gereja. Pekerjaan gereja merupakan pekerjaan Tuhan.
Gereja didirikan jemaat, missioner. Melakukan pekerjaan Tuhan Tuhan perlu perjuangan. Allah memakai orang percaya sesuai talentanya. Injil adalah kekuatan. Nyatakan iman dalam perbuatan sehari hari.
Pendeta juga menyatakan, nilai hidup bukan panjang atau pendeknya umur seseorang, tetapi bermanfaat atau tidak bagi sekitarnya. Sekaitan dengan itu, pendeta juga berharap, GBKP Rg Tanjung Merawa Kanan yang telah berusia 60 tahun tetap menjadi berkat  bagi sekitarnya.
“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan . Banyak yang tidak sesuai dengan hati kita, tapi kita harus berlapang dada. Rancangan Tuhan bukan rancangan manusia.Tuhan hanya memberi satu waktu, ada masanya akan diambil. Karena itu manfaatkanlah sebaiknya untuk kemuliaan Tuhan. Jangan dipersoalkan  siapa yang paling berjasa. Karena Tuhanlah yang terutama.
Pada kesempatan itu, Pdt Agustinus juga menyampaikan pengalamannya saat berkunjung ke Korea Selatan beberapa waktu lalu. Banyak pengalaman yang diperoleh termasuk tentang tugas dan fungsi seorang pendeta. Dikatakan, di Korea Selatan seorang pendeta benar-benar menjadi seorang pemimpin spiritual. Jemaat didoakan supaya diberkati.  Karena itu, ia mengajak semua para pendeta dan pelayan Tuhan untuk mendoakan semua jemaat. Jangan hanya mendoakan diri sendiri saja.
Seusai kebaktian, acara dilanjutkan dengan pemotongan kue ulang tahun dan dibagikan kepada seluruh yang hadiri dilanjutkan dengan kata-kata sambutan dan pembacaan sejarah berdirinya GBKP Rg Tanjung Merawa Kanan oleh Pdt Julianus Keliat.
Tokoh Agama Kristen JA Ferdinandus dalam sambutannya menyebutkan, dalam menjalani hidup jangan sombong. Renungkan dan laksanakan firman Tuhan. Rawatlah gereja hingga menjadi berkat bagi masyarakat sekitarnya. Ia juga mengimbau setiap keluarga untuk menjalankan fungsinya. Mendidik  dan mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penerus  gereja. Menjauhkan mereka dari pengaruh negatif Narkoba.
            Sebelum kebaktian, diawali dengan barisan prosesi dan tarian GBKP Simalem yang dipersembahkan oleh anak KAKR (Kebaktian Anak Kebaktian Remaja).

Selasa, 05 September 2017

Awan Panas dan Lahar Dingin Rusak Rumah & Fasilitas Umum di Kawasan Sinabung

Lengang dan  sunyi, itulah yang terasa ketika memasuki Desa Gurukinayan Kecamatan Payung, Kabupaten Karo yang beberapa waktu lalu  mengalami kebakaran karena semburan awan panas Gunung Sinabung. Bau  terbakar masih terasa. Rumah-rumah penduduk terlihat ditutupi debu, sebagian besar rusak seperti  atap berlubang, jendela yang tak berdaun lagi, kaca pecah,  tak terkecuali rumah ibadah gereja dan mesjid.
Beberapa ratus meter memasuki desa, terdengar suara gemuruh Gunung Sinabung yang ditutupi kabut,  Suara itu kedengaran seperti suara pesawat terbang dari kejauhan. Di dalam desa,  ternyata ada beberapa warga  sedang membongkar rumahnya dan membawa material yang dianggap masih bisa dipergunakan dengan mobil pick-up keluar desa. Suara dari gunung tidak mempengaruhi aktivitas mereka.  Seorang pria menatap rumahnya yang permanen dan mengaku sedang berpikir untuk membongkar rumahnya. “Kalaupun rumah ini dibongkar, yang bisa dipergunakan kembali hanya kosen  jendela, pintu dan kaca nako,” katanya yang kini tinggal di Desa Payung.
Dijelaskan,  rumah  yang merupakan  warisan orangtuanya turut terbakar ketika  awan panas menerpa Desa Gurukinayan. Ia berharap bencana ini bisa segera berakhir dan kehidupan masyarakat kembali normal seperti biasa.
Sementara itu beberapa warga juga terlihat sedang membongkar bangunan Gereja GPdI. Seorang pria bermarga Sitepu menyebutkan, gereja ini sebenarnya baru selesai direhab, namun akibat bencana Sinabung yang menghembuskan awas panas tidak bisa dipergunakan lagi.
“Kami sepakat mengambil material bangunan yang masih bagus untuk dipergunakan di bangunan gereja yang baru. Masih banyak yang bisa dimanfaatkan,” jelasnya.
Relawan GBKP  Wahyudi Mangara Tarigan yang juga dikenal sebagai Merap Cot Dogol (Pelawak Karo) bersama Staf Humas Moderamen GBKP Era Purnama Gurusinga yang turut serta bersama penulis kemudian menunjukkan kawasan lintasan awan panas dan rumah yang terbakar.  Desa Sukameriah yang berada di kaki Sinabung (zona 3 Km) terlihat dari kejauhan hanya tandus dan gersang dan yang kini hanya tinggal kenangan. Seluruh warga di desa tersebut harus direlokasi karena masuk zona merah.  Desa Sukameriah dan Desa Gurukinayan berbatasan langsung. Gurukinayan masuk zona 4 Km. 
Puing-puing 4 rumah adat siwaluh jabu dan 40 rumah warga terbakar terlihat berserakan dan ada beberapa pendatang yang melihat lokasi terbakar. Sementara rumah di sekitarnya juga terlihat seperti sudah lama tak berpenghuni. Yang ada hanya anjing dan kucing.  Peralatan dapur terlihat berserakan, kursi, meja dan lemari rusak dan tertutup debu. Dari kawasan tersebut juga masih terlihat kepulan asap atau uap yang diduga akibat awan panas dari Lau Borus yang memisahkan Desa Gurukinayan dan Berastepu. Walaupun demikian pohon pisang yang nampak layu mulai menumbuhkan pucuknya lagi. 
Menurut Plt Kepada Desa Gurukinayan, Pelin Sembiring, sebelum erupsi Sinabung, penduduk desa tersebut ada 812 KK. Kini  desa tersebut  telah dikosongkan dan sebagian penduduk berada di Simpang Gurki, Payung dan Batukarang. 
Seusai dari Desa Gurukinayan, menjelang sore kami melanjutkan perjalan ke DesaBerastepu. Desa ini juga tampak sepi. Banyak rumah yang ditinggalkan. gedung GBKP juga terlihat berdebu dan seperti sudah lama tak dikunjungi. Namun ada juga rumah yang ada penghuninya. Mereka terlihat duduk di luar sambil memandang Sinabung. Bahkan ada juga warga yang sedang bekerja di ladangnya.

Bronjong dan Lahar Dingin
Ternyata bukan hanya debu dan awan panas dari Gunung Sinabung  saja yang menjadi ancaman bagi warga.  Kala hujan deras turun di gunung, akan turun lahar  dingin dengan material lumpur  dan juga bebatuan baik kecil dan besar.
Banjir besar lahar dingin  terjadi  pada 28 April lalu menghancurkan sejumlah infrastruktur di beberapa desa.
Bronjong-bronjong yang dibangun pemerintah di sungai-sungai juga tak mampu menghempang laju lahar dingin. Ada juga bronjong  ikut  dibawa derasnya lahar bersama bebatuan dan lumpur dari gunung. Akibatnya terjadi pengikisan membuat sungai semakin lebar.
Kerusakan juga terjadi pada sejumlah jembatan. Dari pantauan penulis, di  jembatan Lau Borus  terlihat air yang berlumpur mengalir dari bawah pondasi jembatan. Pondasi menggantung.
Sementara keadaan jembatan (titi) Kambing jauh lebih parah. Satu sisi pondasi jembatan ikut terbawa lahar dingin. Jembatan tinggal ditopang tanah. Dikhawatirkan bila tidak cepat diperbaiki, jembatan itu akan runtuh. Jalan di sekitar titi Kambing menuju Simpang Perbaji juga rusak akibat tergerus lahar dingin yang melewati Desa Perbaji.
Di Desa Genting terlihat pemerintah sedang membangun jembatan dan mengeruk tanah untuk menjadi lintasan lahar dingin bila turun lagi. Karena sebelumnya pada Selasa, 28 April, menurut Mangara, ketika banjir lahar dingin, lahar dingin  tak hanya “mengikuti”  alur sungai saja, tapi  mengalir “sesukanya” membuat warga ketakutan seperti yang terjadi di Desa Perbaji. Akibatnya warga mengungsi ke gereja karena takut terkepung  lahar dingin.
Saat itu GBKP membuka dapur umum untuk melayani warga yang belum sempat makan karena banjir lahar dingin mulai terjadi sore hari.
Lahar dingin juga merusak ladang dan  lahan persawahan masyarakat di sepanjang aliran Lau Borus.
Areal persawahan di Desa Batu Karang juga terkena dampak kekeringan. Hal ini disebabkan    air Lau Borus yang selama ini mengaliri sawah mereka menjadi tersendat  akibat  terbendung bebatuan besar dan lumpur yang terbawa saat banjir lahar dingin.
Kepala BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Karo Ir  Subur Tarigan Tambun menyebutkan, pembangunan bronjong-bronjong untuk mengantisipasi banjar lahar dingin masih terus dilakukan  BWS  (Balai Wilayah Sungai) Sumatera II.  Pemkab Karo juga melakukan perbaikan jalan-jalan yang rusak. Terkait perbaikan infrastruktur yang rusak, Pemkab Karo tetap berkoordinasi dengan BWS yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat.
Pada kesempatan itu, Subur juga kembali mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada dan hati-hati. Patuhi aturan yang dibuat instansi yang berwenang demi kebaikan bersama.
“Pemerintah akan terus mensosialisasikan mengenai zona larangan. Dibutuhkan kesadaran dan kerja sama masyarakat terutama untuk tidak memasuki kawasan terlarang,” katanya.

Gereja Tetap Hadir
Ketua Moderamen GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) Pdt Agustinus P Purba mengatakan, dalam menghadapi masalah terutama terkait erupsi Sinabung, gereja tetap hadir di tengah masyarakat.
“Sampai saat ini Posko masih tetap buka. Gereja  akan tetap membantu masyarakat semaksimal mungkin,” kata Pdt Agustinus.
Saat ini, jelas  pendeta gereja/ relawan terus melakukan pendampingan bagi masyarakat korban erupsi Sinabung,.  (Eva Rina Pelawi)

Minggu, 30 April 2017

Peringatan 127 Tahun GBKP 

Peringatan 127 Tahun GBKP Diwarnai Ziarah dan Napak Tilas

Rabu, 26 April 2017 | 23:45:48

HARIAN SIB/ EVA RINA PELAWI

ZIARAH: Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba bersama pengurus lainnya meletakkan bunga di makam pekabar Injil bagi masyarakat Karo di Taman Marturia GBKP di Sibolangit pada peringatan 127 tahun GBKP, Selasa.

 Peringatan 127 tahun GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) diwarnai dengan berbagai kegiatan. Acara diawali dengan kebaktian di GBKP Runggun Sibolangit, Selasa (18/4) dengan pengkhotbah Ketua Umum Moderamen Pdt Agustinus P Purba.

Dalam khotbahnya yang diambil dari 1 Johanes 1:4, dia mengajak warga GBKP untuk merenungkan peran para pekabar Injil kepada masyarakat Karo di Desa Buluhawar, hingga menerima berita keselamatan.

Menurutnya, usia GBKP 127 tahun bukan kebetulan, tapi karena berkat Tuhan yang memanggil umatNya menjadi saksi Kristus. Seiring dengan perkembangan zaman, Pdt Agustinus mengajak semua yang hadir untuk merenung, apakah selama ini kita sebagai orang yang dipilihNya menjadi anakNya telah menjadi saksi Kristus dalam perbuatan dan tingkah laku sehari-hari atau berkarya hanya untuk mencari ketenaran diri sendiri?

Disebutkan, kebangkitan Kristus untuk menghadirkan kehidupan di dunia. Karena itu, orang-orang pilihan Tuhan harus jadi saksiNya. Damai sejahtera bagi orang pelayan Tuhan.

Usai kebaktian, acara dilanjutkan dengan ziarah ke makam para penginjil dan mantan ketua umum Moderamen GBKP di Taman Marturia, Sibolangit. Peletakan bunga diawali Moderamen dan mantan Moderamen diikuti dengan para pengurus klasis dan undangan yang hadir. Makam yang diziarahi antara lain makam Pdt Neuman, Pdt Dr Anggapen Ginting Suka, Pdt JK Wijnaarden dan Pdt Thomas Sitepu. Peringatan HUT tersebut juga diwarnai dengan tiup lilin dan pemotongan tumpeng cimpah matah dan dibagikan kepada pengurus klasis, perwakilan biro dan umat pelayanan di GBKP.

Pada hari tersebut, acara dilanjutkan dengan diskusi panel sejarah zending di GBKP dengan 3 orang narasumber yakni mantan Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt MP Barus, Pdt Selamat Barus dan Pdt Mehamat W Tarigan. Masing-masing pendeta tersebut memaparkan tentang pekabaran Injil kepada masyarakat dan perkembangannya hingga berdiri GBKP dan bagaimana harapan peran GBKP ke depannya. Hasil diskusi panel tersebut direncanakan dibuat menjadi sebuah buku dan menjadi refrensi jemaat GBKP.

Rangkaian acara lainnya, napak tilas dari Desa Bukum ke Desa Tanjung Barus yang antara lain diikuti pendeta, vicaris dan detaser untuk mengenang perjalanan dan merasakan pengorbanan para pekabar Injil terdahulu yang melintasi hutan dan bebukitan untuk menuju daerah pelayanannya. Sebelumnya dilaksanakan acara malam puji-pujian di Desa Bukum dipimpin Pdt Masada Sinukaban. KKI (Kebaktian Kebangunan Iman) dan meditasi dilaksanakan di Desa Tanjung Barus dipimpin Pdt Krismas Imanta Barus. Walau hujan deras turun tidak menyurutkan semangat ratusan jemaat mengikuti acara hingga tengah malam
.
Menurut Ketua Panitia Peringatan 127 Tahun GBKP Pdt Masada Sinukaban, kegiatan peringatan HUT ini akan berlangsung hingga Mei berupa KKI di 3 desa dan aksi peduli kebersihan Sibolangit-Penatapan-Berastagi sepanjang Jalan Jamin Ginting. Dia berharap dengan berbagai kegiatan tersebut, kehadiran GBKP akan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.(Eva Rina P) 

Tomi Wistan "Anak Pinggiran" Merambah Kota

Tomi Wistan "Anak Pinggiran" Merambah Kota

Minggu, 1 November 2015 | 17:01:37, HARIAN SIB

Mendapat tantangan berupa ejekan dan hinaan ketika memulai usaha sebagai developer tak pernah menyurutkan langkahnya  terus maju untuk sesuatu yang ingin diraihnya. Itulah Tomi Wistan pengusaha property yang Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) DPP REI periode 2014-2016. 

Jiwa bisnis yang dimiliki Tomi Wistan mengalir dari orang tuanya yang berbisnis material bangunan di Kabupaten Serdang Bedagai. Ketika kuliah semester III di  Universitas Tarumanegara Jakarta jurusan Arsitektur, pria kelahiran Desa Pon, Sergai 15 Oktober 1971 ini mulai belajar berusaha. Berbeda dengan teman-temannya yang konsentrasi kuliah, ia memilih kerja sambil kuliah. Ia bekerja sebagai broker agen property freelance hingga tamat kuliah.

Pria lulusan SMA 1 Sutomo Medan ini kemudian bersama teman-temannya mencoba melamar kerja, namun ia selalu tak diterima.
"Mungkin karena nilai saya pas-pasan, jadi saya tidak diterima," katanya.
Namun itu semua tak membuat mantan Ketua DPD REI Sumut ini berputus asa. 

"Memang tidak semua yang terjadi sesuai rencana, namun hidup bagai air yang mengalir. Bila terbendung, cari celah untuk bisa mengalir lagi. Setelah beberapa kali lamaran ditolak, saya putuskan tidak mau melamar lagi, harus jadi pengusaha," katanya.

Tomi kemudian memutuskan menjadi kontraktor serta membuka bisnis percetakan bersama rekannya di Jakarta. Seiring perjalanan waktu, bisnis percetakan dan advertisingnya maju pesat hingga usaha kontraktornya ditinggal.

Namun situasi ternyata tak selalu memihak mantan Ketua Kadin Sergai ini. Akibat krisis moneter (krismon)  1998, usahanya juga terkena imbasnya, bisnis anjlok. Tak kenal kata putus asa, ia kemudian menekuni bisnis MLM (Multi Level Marketing). Dalam kerja kerasnya, ia berhasil merekut banyak orang menjadi jaringannya. Walaupun krismon, tak membuat dia bermasalah dalam segi keuangan. Saat menuju puncak, Desember 1999 Tomi Wistan dipanggil orangtuanya pulang kampung untuk membantu usaha keluarga. Usaha keluarga ini kemudian dikembangkannya jadi usaha kontraktor alat berat dan timbunan.

Pada tahun 2003, ia kembali mendekati  habitatnya semula sebagai developer secara tak sengaja. Ia ingin membantu teman baiknya yang ingin menjual tanah. Namun karena tak laku-laku, akhirnya Tomi diminta membeli tanah tersebut dengan pembayaran dicicil. Setelah terjadi kesepakatan, Tomi memutuskan membangun rumah toko yang sekarang menjadi pusat bisnis di Sergai.

"Saat itu Sei Rampah masih kecamatan dan masih masuk Deliserdang. Saya ingin turut serta membangun daerah kelahiran saya, " katanya.

Saat membangun kawasan yang dinilai banyak orang seram karena di samping kuburan dan kawasan berawa, banyak orang yang mencemohkannya dan pesimis. Mereka juga menilai properti sulit berkembang di Sei Rampah yang kota kecil Saat ruko selesai, Tomi juga menjual propertinya dengan harga murah dengan tujuan investor masuk dan buka usaha di  Sei Rampah agar pelayanan bagi masyarakat berkembang.

Setelah Kabupaten Serdangbedagai terbentuk sebagai pemekaran dari Kabupaten Deliserdang, Sergai langsung memiliki pusat bisnis yang saat ini dikenal dengan nama Asia Business Centre. Masyarakat pun tak perlu lagi harus ke Tebingtinggi untuk berbelanja, karena di kawasan bisnis tersebut semua tersedia.

Sukses dalam pembangunan di Sei Rampah, Tomi Wistan terus mengembangkan bisnisnya. Proyek propertinya telah ada di 8 kabupaten/kota di Sumut seperti di Medan, Labuhanbatu, Tebingtinggi dan lainnya. Selain itu bisnisnya juga telah merambah ke provinsi lain seperti Riau.

MAIN DI PINGGIRAN

Dalam menggerakkan bisnisnya, Wakil Ketua Umum Kadinsu ini juga selalu memiliki pertimbangan khusus seperti ia cenderung membangun di daerah pinggiran, namun  ada prospek untuk berkembang. Jadi tidak hanya membangun di kota besar.

Tomi juga berprinsip, setiap daerah tempatnya membangun, ia juga menjadi investor, sebagai developer yang membangun kawasan tidak potensil menjadi potensial. Ia juga selalu memanfaatkan orang di daerah tempatnya membangun sebagai mitra. Banyak tantangan di lapangan sebagai developer, tapi Tomi Wistan tak pernah surut demi komitmen turut serta dalam membangun bangsa.

Di tengah kesibukan menjalankan bisnisnya, Tomi tidak lupa untuk hidup bermasyarakat dan berorganisasi di lingkungannya seperti menjadi  pengurus di Yayasan Muara Sutra Sei Rampah, wakil ketua komite asosiasi provinsi bersaudara Sumut dan lainnya. (Eva Rina Pelawi/ r) 

Mengenal Ketua Moderamen GBKP periode 2015-2020

Mengenal Ketua Moderamen GBKP periode 2015-2020

Pdt Agustinus Purba STh  MA, Berkarya Tanpa Pamrih


Melayani, melayani dan melayani  itulah yang selalu ditekankan  Pdt  Agustinus Pengarapen Purba STh MA dalam menjalankan tugasnya sebagi seorang pendeta di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Dia meyakini,  kehadiran gereja di tengah-tengah masyarakat adalah untuk melayani, melayani dan terus melayani serta menjadi saksi kepada semua masyarakat tanpa mengenal status sosial, suku dan  agama.

Pria kelahiran Medan, 21 Agustus 1966 ini baru terpilih  sebagai Ketua Umum Moderamen GBKP periode 2015-2020 pada Sinode ke-35 di RC Sukamakmur, Deliserdang. Sebelum terpilih sebagai ketua umum,  Pdt Agustinus  menjabat sebagai Ketua Bidang Diakonia Moderamen GBKP periode 2010-2015. Dalam menjalankan tugasnya sebagai Kabid Diakonia dia lebih banyak melayani dan terakhir  berkecimpung dalam penanganan dampak erupsi Sinabung bagi masyarakat. Dalam penanganan pengungsi Sinabung , ayah dari  Agatya Doretha Br Purba, Louis Sri Ananda Br Purba dan Pascal Dominggo Purba 3  ini melakukan pelayanannya dengan sungguh-sungguh dan  tulus serta tidak memandang suku dan agama.

“Tidak boleh ada yang kelaparan dan kedinginan dan anak-anak harus terus bersekolah” itulah pokok pelayanan yang terus ditekankan  alumni Protestant University Wuppertal/Bethel –Germany ini.     
Gereja kata pria yang sejak kecil memang bercita-cita jadi pendeta ini karena termotivasi dengan tugas pelayanan,  akan terus berada di masyarakat . Gereja  tidak akan pernah meninggalkan mereka. Melalui pelayanan  ini pada tahun 2014, BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) memberikan penghargaan tokoh inspiratif “ Reksa Utama Anindha” kepadanya. Penghargaan ini karena  dianggap berperan banyak dalam membantu pengungsi Sinabung. Sebelumnya, Pdt Agustinus  juga aktif mengkoordinir relawan GBKP untuk pelayanan bencana tsunami Aceh di Meulaboh  dan Mentawai.

Kini sebagai Ketua Moderamen,  dikatakan Pdt Agustinus, bersama dengan 9 pengurus Moderamen lainnya akan melaksananakan amanah dan putusan  Sinode pada April 2015 lalu, antara lain  fokus pada pembinan internal untuk peningkatan spiritualitas internal GBKP mulai dari tingkat PJJ  (sektor) hingga ke sinodal. Dengan program prioritas ini diharapkan tahun 2016, GBKP akan menjadi gereja yang misioner. Semua jemaat berkontribusi dalam menyampaikan berita suka cita kepada semua orang.

“Kita menjadi pelayan Kerajaan Allah berarti berusaha mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat, misalnya  menjalin dan meningkatkan rasa persaudaraan, kerja sama, dialog, tingkatkan  solidaritas,  memperhatikan yang lemah, miskin, tertindas dan yang terpinggirkan,” kata  pendeta yang telah melanglang buana ke berbagai negara ini untuk memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan ini.
Sebagai orang yang dipilih Allah kata pendeta yang ditahbiskan (itangkuhken) pada Maret 1993 di Desa Perbesi ini,  kita harus terus berkarya dan bekerja sebagai saksi Kristus tanpa pamrih. Karena anugrah terbesar telah kita terima.

Terlepas dari urusan gereja dan pelayanan,  pendeta yang meraih gelar master dari Protestant University Wupertal/Bethel –Germany (Master of Arts-Diakonic Management) ini dikenal sebagai sosok yang rendah hati,  sangat bersahabat dan low profile. Penampilannya bersahaja dan sederhana. Dalam pergaulannya dengan berbagai kalangan dan pegawai di lingkungan kantor Moderamen, tidak ada jurang pemisah dalam berkomunikasi.

Di tengah kesibukannya dalam berbagai  tugas pelayanan, waktu untuk keluarga juga tetap ia sediakan. Dalam keluarga dia juga dikenal sebagai sosok seorang ayah yang  dekat  anak-anaknya. Dia selalu menyempatkan diri  menjalin komunikasi dengan istrinya Rosmeri Peranginangin dan anak - anaknya yang sudah mulai beranjak dewasa.
"Kami mendukung penuh pelayanan bapak sebagai hamba Tuhan," kata Rosmeri.
Bila dipikirkan secara duniawi katanya, sangat tidak adil waktu yang disediakan untuk keluarga dibandingkan dengan pelayanan di luar rumah. "Tapi kami sadar, itulah panggilannya. Jadi bila ada waktu berkumpul keluarga, sangat kami manfaatkan. Biar singkat tapi berkualitas," jelasnya.
Sebelum masuk sebagai anggota Moderamen Pdt Agustinus melayani di GBKP Kutabuluh Simole, kemudian menjadi Ketua Klasis Sinabun. Tahun 2001 ia diangkat menjadi Direktur Yayasan Ate Keleng /Partisipasi Pembangunan Masyarakat (Parpem) GBKP.(Eva Rina Pelawi/Harian SIB)

Medan, 30 Mei 2015