Minggu, 15 Juli 2018

Retreat Centre GBKP Berbenah

Retreat Centre GBKP Berbenah

Menyusuri jalan menikmati udara segar mengundang rasa damai. Desiran dedaunan dari pohon-pohon rindang membuat rasa segar dan nyaman. Pemandangan indah, suasana damai dan nyaman membuat sulit melupakan daerah ini.
Retreat Centre GBKP, inilah nama tempat tersebut. RC merupakan salah satu unit pelayanan  GBKP yang  dirancang khusus untuk menyegarkan rohani dan jasmani pengunjungnya.RC berada di lokasi Taman Jubileum 100Tahun GBKP di Desa Sukamakmur,berdampingan dengan Green Hill, Hill Park.
Di lahan seluas sekira 55 Ha, pengelola telah membangun berbagai sarana  dan fasilitas untuk berbagai kegiatan pengunjung. Untuk pertemuan massal tersedia lapangan yang cukup luas, namun ada juga jambur berkapasitas untuk sekitar 700 hingga 1000 orang. Bagi pengunjung yang ingin mengadakan pertemuan sekaligus penginapan juga juga tersedia beberapa gedung dengan kapasitas yang berbeda. Seperti gedung  Hermon dan Betel berkapasitas 100 orang, yang didalamnya tersedia ruang rapat dan kamar. Ada juga gedung yang lebih kecil. Konsumen dapat memilih sesuai dengan kebutuhannya. Selain itu juga disediakan cotage-cotage bagi keluarga kecil mulai dari cotage biasa hingga VIP. Harga yang ditetapkan sangat terjangkau.
Selain fasilitas  untuk  rapat dan pertemuan, juga tersedia tempat untuk retreat,  meditasi dan ibadah yakni chapel di atas bukit. Di Chapel ini pengunjung bisa berdoa dan beribadah. Pada waktu yang telah ditentukan ada waktu meditasi yang dilayani oleh para hamba Tuhan yang telah diatur jadwalnya oleh manajemen RC. Retreat juga bisa dilakukan di berbagai lokasi dengan berbagai tempat di alam  terbuka dan sunyi.
Di RC  para pengunjung juga bisa berekreasi dan santai  melepas kesibukan dan rutinitas karena ada tersedia kolam renang dan puncak salib. RC dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun hingga udaranya sangat segar. Para pengunjung terutama yang menginap tidak melewatkan kesempatan untuk berolahraga , menyusuri jalan yang sudah diaspal menghirup udara segar sambil mendengar kicauan burung dan menikmati  keindahan ciptaan Tuhan. Mendengar cipratan air tiga sungai yang ada di kawasan tersebut.
Ke depannya diprogramkan pembagian zona sesuai kapasitasnya yakni  zona keramaian, di daerah tersebut  akan dibangun berbagai permainan untuk anak dan berbagai fasilitas untuk rekreasi.  Zona semi hening untuk kegiatan rapat, pembinaan dan kegiatan resmi serta zona hening khusus untuk ibadah. Zona ini jauh dari keributan.
Direktur RC Pdt Sinar Rehaganta Barus menyebutkan,  sesuai dengan namanya retreat centre yang berarti menenangkan diri dari kesibukan dunia yang ruwet, RC Sukamakmur akan diupayakan menjadi tempat retreat yang penuh makna bagi pengunjungnya. Misi RC  menjadi tempat pembinaan dan penyegaran baik spiritual, moral, mental bagi para pelayan, jemaat dan masyarakat di tengah-tengah rutinitas harian yang menjenuhkan.  Tempat pengembangan SDM dengan membangun wawasan / pengetahuan dan skill yang mempertinggi kualitas para pelayan dan kualitas hidup jemaat.Tempat pembentukan komunitas yang menjadi pola kehidupan bermasyarakat yang damai dan sejahtera. Tempat pertemuan, seminar, training bagi para pelayan gereja, jemaat dan masyarakat.  Tempat pembinaan bagi rasa cinta terhadap budaya dan lingkungan yang pada akhirnya, kedewasaan iman akan meningkatkan kesejahteraan jemaat yang mendorong partisipasi jemaat dalam memberitakan  kabar baik di tempat mereka masing-masing. Keberhasilan RC akan bisa dilihat dari berapa banyak jemaat menemukan keteduhan jiwa  dalam pelayanan RC. Seberapa banyak hamba Tuhan merasa terbina dan panggilan pelayanannya lebih intens melalui program yang dibuat RC.
Sekaitan dengan hal tersebut katanya,  fokus pelayanan RC adalah ibadah meditasi, spiritual enrichment untuk para pendeta,  pembinaan rutin kepada pertua dan diaken serta konseling pastoral untuk jemaat yang datang. Selama 2,5 tahun terakhir ini RC sudah melakukan program rutin meditasi tiap  hari Minggu pukul 17.00 WIB. Sebelumnya dilakukan pembinaan pertua/diaken pukul 14.30 WIB. Dua kali setahun juga RC mengundang para pendeta  untuk mengikuti SEP (Spritual Enrichment Program). Acara ini semacam bengkelnya pendeta untuk  menyegarkan panggilan tugas dan pelayanan. Selain  itu dilakukan   retreat pasutri. Retreat ini ditawarkan kepada majelis gereja melalui pendeta-pendeta  atau kepada tamu-tamu RC saat datang meninjau lokasi. Acara yang ditutup dengan rekonsiliasi ini sudah menjadi  program favorit jemaat. Saat ini ada 5 orang pendeta yang direkrut RC jadi tim meditasi  yakni Pdt Krismas Barus MTh, LM, Pdt Mestika Ginting MPSi, Pdt Andohar Purba MTh, Pdt Novika br Pinem  dan Pdt Sinar R Barus MTh  serta  20 orang anak Permata yang jadi tim pemusik dan song leader tiap ibadah.
Khusus untuk kalangan muda, ditawarkan program outbond,  junggle trip keliling hutan RC dan beragam permainan. Kegiatan ini dipandu oleh orang yang terlatih memiliki sertifikat outbond nasional. Untuk menunjang  semua kegiatan,  RC  mempekerjakan 56 karyawan.
Sejarah Singkat
Berdasarkan informasi  yang diperoleh dari Pdt Usman Milala dan Pdt Selamat Barus, Retreat Centre diadakan bermula dari direncanakannya perayaan jubileum 100 tahun GBKP. Mandat diberikan kepada  Pdt Selamat Barus yang saat itu Ketua Parpem (Partisipasi Pembangunan)  dan Pdt Musa Sinulingga dari Moderamen untuk membentuk panitia dan apa yang dilaksanakan  dalam perayaan tersebut. Perayaan tersebut diharapkan bukan hanya seremoni saja, tapi ada sesuatu  yang ditinggalkan untuk gereja. Akhirnya diputuskan dibuat retreat centre sebagai tempat perayaan jubileum 100 tahun GBKP serta sarana mempersiapkan dan membina  warga gereja dalam menghadapai perubahan zaman. Hal ini dipandang perlu, mengingat saat itu terjadi perubahan  zaman ke arah globalisasi  dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Retreat Centre ini dijelaskan akan menjadi tempat  meditasi dan retreat anak-anak Tuhan agar tetap dapat mengasihi Tuhan, sesama dan lingkungan.
Saat Pdt Musa Sinulingga berkunjung ke PAK Gelora Kasih, Sukamakmur yang saat itu dilayani Pdt Usman Milala diketahui PAK memiliki lahan seluas 15 Ha. (Awalnya lahan tersebut hanya 5 Ha. Lahan bertambah  10 Ha  setelah Pdt Usman studi banding ke Panti Asuhan Salib Putih di Salatiga. Disana dia melihat panti asuhan tersebut memiliki usaha yang cukup maju. Hal tersebut juga ingin dilakukan Pdt Usman di PAK Gelora Kasih. Dan diwujudkannya dengan membeli lahan 10 Ha walaupun awalnya dengan dana pribadi. Lahan itu kemudian diusahai dengan menanam bunga, memelihara lembu hingga akhirnya terus berkembang.)
Setelah berbincang  akhirnya disepakati perayaan jubileum dilaksanakan di tempat tersebut dan anak-anak PAK bergotong royong memperbaiki jalan.  Sesuai dengan tahapan yang dibuat, akhirnya Pdt Selamat Barus  terbang ke Jerman bertemu dengan Dr Pdt Ulrich Bayer dari Gereja Westfalia dan  Dr Pdt Denberger yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris VEM (sekarang UEM) untuk Indonesia untuk memaparkan konsep retreat center yang akan dibangun. Disepakati dibuat proposal tapi dengan ketentuan dana yang diberikan untuk membangun fasilitas dan sarana  bukan untuk pengadaan tanah. Pengajuan proposal dengan sepengetahuan dan surat pengantar dari Moderamen.
Untuk pembangunan tersebut, ada 5 proposal yang diajukan secara bertahap. Proposal pertama  untuk pembangunan cotage dan jambur RC. Dalam pembangunan tersebut, 4 sekawan bekerjasama  dan  saling bahu-membahu yakni Pdt Selamat Barus sebagai penghubung dengan Jerman untuk pengadaan dana, Pdt Borong Tarigan sebagai pengawas dan pelaksana pembangunan, Pdt Musa Sinulingga sebagai konseptor pembangunan dan pembuat visi misi RC serta Pdt Usman Milala yang menyediakan lahan dan turut serta dalam pengawasan.
Pada tahun 1988 diadakan  pencanangan peringatan  jubileum  100 tahun GBKP dan kebaktian peresmian taman jubileum . Sebelumnya telah dibangun tugu  yang merupakan tema jubileum 100 tahun GBKP “Ini Aku, Utuslah Aku” yang bermakna  persatuan dan kebersamaan jemaat dalam membangun gereja.
Seiring dengan perkembangan, RC terus berkembang hingga kini sudah memiliki lahan yang cukup luas dengan berbagai sarana diatasnya. Pdt Selamat Barus berharap RC tetap berada dalam visi misinya sebagi membina dan mempersiapkan jemaat dalam menghadapi era teknologi agar bisa tetap mengasihi Tuhan, mengasihi sesama dan menjaga kelestarian lingkungan.(Eva Rina Pelawi)

Kamis, 10 Mei 2018

Perayaan Paskah GBKP 10 Klasis Medan Sekitar Dihadiri Ribuan Jemaat


Perayaan Paskah GBKP 10 Klasis Medan Sekitar Dihadiri Ribuan Jemaat

Pdt Agustinus Purba : Kekristenan Tidak Bisa Dinilai dengan Materi

 

Jadi Kristen tidak bisa dinilai dengan materi. Kehidupan dalam berkemenangan sudah diberikan Tuhan. Sekarang tinggal kita bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan kita sebagai anak yang sudah memperoleh anugrah. Kita berjuang sebagai saksi Kritus yang telah mengorbankan diri-Nya agar yang percaya memperoleh kehidupan kekal.

Demikian disampaikan Pdt Agustinus P Purba , Ketua Umum Moderamen GBKP pada perayaan Paskah GBKP 10 Klasis Medan Sekitar, Jumat (20/4-2018) di Pondok Daud Solagratia, Durin  Simbelang, Deliserdang. Disebutkan, maut, kuasa kematian tidak lagi berkuasa karena Yesus telah bangkit dari kematian. Paskah merupakan pesta dari segala pesta. Kuasa kegelapan saat ini selalu menggoda  agar anak-anak Tuhan goyah.

“Kekristenan terus mendapat tantangan, diganggu dan dilarang beribadah. Tapi itu jangan membuat kita goyah dan takut. Sebagai pengikut Kristus kita memperoleh kemenangan. Jangan ragu, tunjukkan iman kita. Ada kebangkitan bagi orang yang percaya,” katanya.  

Pada kesempatan itu, Pdt Agustinus mengapresiasi Permata (Kumpulan kaum muda) dan KAKR (Kebaktian Anak Kebaktian Remaja) GBKP  Klasis Lubukpakam  dan Pancurbatu yang berperan dalam acara tersebut dengan melakonkan drama penderitaan Yesus .

Dia mengharapkan potensi anak Permata dan KAKR terus dibina. Dengan kreatifitas yang ada, para Permata tersebut  bisa berbagi dan bekerja  sama dengan Permata yang ada di Karo. Dengan demikian mereka bisa terhindar dari pergaulan negative seperti pengaruh penyalahgunaan Narkoba. Kepada orangtua juga diharapkan agar lebih perhatian kepada anaknya, ajarkan kasih.

Usai kebaktian Ketua Penasehat GBKP 10 Klasis Pt Em Timbangen Ginting dalam sambutannya mengatakan, gabungan 10 klasis dibentuk agar terjalin koordinasi dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan. Selain itu terjalin silaturahmi, hingga pelayanan gereja bisa juga ditingkatkan. Ke depan dia berharap, semua kegiatan 10 Klasis bisa lebih baik lagi.

Ketua Panitia Pdt Steven Kumenit didampingi panitia lainnya Pt Jetra Sembiring, Pt Hotman T Saragih dan Pt Levina Peranginangin dalam sambutannya mengatakan, perayaan Paskah bukan hanya menunjukkan kebangkitan Kristus, tapi lebih dari itu,  kuasa Allah dalam Kristus  tidak bisa  dikalahkan oleh kuasa apapun, termasuk kuasa setan. Kuasa kematian yang ditakutkan manusia dan dunia telah dikalahkan kuasa Allah. Yesus telah bangkit. Kuasa kebangkitan Yesus inilah yang menyelamatkan manusia. Sebagai orang yang telah menang, kita harus menjadi berkat dalam  semua bidang, termasuk politik. Kita juga harus kerja sama dengan  pemerintah dan masyarakat.

Pdt Kumenit mengharapkan, melalui perayaan Paskah ini, iman jemaat semakin dikuatkan dan dewasa.

Sementara anggota DPD RI Parlindungan Purba yang hadir dalam kegiatan tersebut juga mengajak semua hadir untuk meningkatkan silaturahmi. Jaga persatuan dan kesatuan bangsa. Dia juga mengingatkan, agar menjauhi penyalahgunaan Narkoba yang saat ini banyak korbannya. “Bila tersentuh Narkoba, akan sulit untuk pulih kembali,” katanya.

Dia mengajak semua pihak yang berkompeten untuk meningkatkan penyuluhan bahaya penyalahgunaan Narkoba. Keluarga adalah yang terdepan sebagai benteng menangkal pengaruh negative Narkoba.

Moderamen GBKP yang diwakili Sekum Pdt Rehpelita Ginting dalam sambutannya mengajak, umat GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) jangan mau dipecah belah. Jangan gampang terprovokasi oleh hasutan atau berita apapun. GBKP tetap satu.

            Disebutkan, dalam situasi jelang pilkada sekarang ini, kita harus waspada, jalin persatuan dan kesatuan. Sebagai umat Kristen, harus menunjukkan sikap positif dan jadi saksi.

            Pdt Rehpelita mengajak jemaat untuk menggunakan hak pilihnya pada pemungutan suara pada Juni mendatang. Gunakan sesuai dengan hati nurani dan berdoa sebelum memilih.  

Drama

Sebelumnya drama sengasara Yesus mulai dari penyiksaan hingga disalibkan di Bukit Golgota yang diperankan anak KAKR dan Permata GBKP  Majelis Klasis Lubukpakam dan Pancurbatu mulai dari Pajak Pancur Batu hingga Pondok Daud Solagratia, Durin  Simbelang, Deliserdang mengundang iba dan airmata masyarakat yang menyaksikan. Bagaimana Yesus yang tidak bersalah, dipukuli dan dicambuk untuk menebus dosa manusia.

Terlihat drama tersebut  dilakonkan dengan penuh perasaan oleh Permata dan anak KAKR sesuai dengan peran mereka masing-masing.(Eva Rina Pelawi)

 

 

 

 

 

Sinabung... Oh Sinabung


Sinabung...oh Sinabung

 

 

Erupsi  Gunung Sinabung  di Karo sudah berlangsung lebih kurang 8 tahun  sejak 2010. Hingga kini, erupsi masih sering terjadi. Sinabung yang dulu terlihat indah, kini gersang. Masyarakat yang dulu berada di kaki Gunung Sinabung hidup sejahtera dari hasil pertanian, sebagian besar kini harus pindah tempat tinggal dan relokasi ke beberapa daerah.

Pada Senin,  19 Februari 2018 Sinabung kembali menyita perhatian masyarakat karena letusannya yang cukup dahsyat. Letusan yang terjadi pada pagi hari tersebut disebutkan merupakan letusan terbesar dibanding letusan-letusan sebelumnya.  Tinggi letusan diperkirakan mencapai 5.000 meter dari puncak Gunung Sinabung. Menyusul letusan, awan panas meluncur mencapai jarak 4,9 Km ke arah sektor selatan-tenggara dan 3,5 Km ke arah timur-tenggara. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dampak dari awan panas ini terpantau masih berada di kawasan yang disterilkan. Setelah itu debu vulkanik terbang ke arah barat mengikuti tiupan angin.

Warga sebelumnya yang sudah mulai terbiasa dengan letusan-letusan kecilnya, dipanikkan dengan suara gemuruh  yang cukup dahsyat. Para pelajar yang sedang  asik belajar, berlarian, menjerit, menangis ketakutan oleh hujan debu, pasir dan batu yang dikeluarkan Sinabung. Para warga berupaya menyelamatkan diri. Beberapa desa  jadi gelap gulita  karena sinar matahari tertutup oleh tebalnya debu Sinabung yang melambung tinggi.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Karo mencatat ada lima kecamatan yang terpapar debu vulkanik Gunung Sinabung antara lain Kecamatan Tiga Nderket, Payung, Munthe, Lau Balang, dan Namanteran. Kecamatan paling terdampak debu vulkanik ini terjadi di Kecamatan Tiga Nderket dan Kecamatan Payung.

Sejak akhir tahun 2017 tidak ada lagi  masyarakat yang berada di pengungsian sesuai dengan perintah Presiden Jokowi saat berkunjung ke Kabupaten Karo. Warga yang tidak bisa kembali lagi ke desanya karena masuk zona merah, ada yang direlokasi, ada yang berada di daerah hunian sementara, ada yang mandiri dan lainnya.

Walaupun masyarakat tidak ada lagi di posko pengungsian, namun kehidupan ekonomi mereka sangat terpuruk, terlebih setelah erupsi 19 Februari. Tanaman pertanian  seperti tomat, cabai hancur ditimpa debu Sinabung. Tanaman tua terlihat gersang.

Beberapa warga yang ditemui penulis di  Desa Tiga Nderket antara lain Pt  Budi Sitepu/Arihtati Br Bangun menyebutkan, perekonomian warga sangat rendah, daya beli kurang karena tanaman mereka banyak yang hancur pasca erupsi. Masyarakat juga merasa tersandera untuk melakukan suatu aktivitas dalam jangka panjang karena trauma. Untuk membangun rumah atau lainnya masyarakat sepertinya enggan karena  ketakutan akan erupsi Sinabung.

Untuk bercocok tanam, warga mau tak mau harus menanam untuk menyambung hidup. Pasrah akan apapun yang terjadi seperti yang dikatakan Indro yang ditemui di ladangnya saat menanam bawang merah. Dikatakan, penghasilannya sangat turun drastis akibat erupsi Sinabung.  Tanaman hancur karena terkena debu Sinabung.

Warga berharap, pemerintah atau pihak yang peduli bisa memberikan bantuan pertanian seperti bibit unggul dan pupuk.

Melihat  penderitaan warga, banyak bantuan  kemudian disalurkan ke desa-desa yang terdampak erupsi Sinabung, baik oleh pemerintah, perusahaan swasta tak ketinggalan gereja termasuk GBKP yang selama ini tetap berkecimpung melayani warga.

Ketua Komisi Penanggulangan Bencana GBKP Pdt Dormanis Pandia menyebutkan, bantuan-bantuan yang diterima GBKP langsung disalurkan ke desa-desa terdampak Sinabung. Bantuan yang sudah diserahkan antara lain ke Desa Batukarang, Jandimeriah,  Tiga Nderket, Perbaji, Tanjung, Kutambaru, Susuk dan Temburun. Bantuan diserahkan juga kepada jemaat yang tidak pernah mengungsi.

“Mereka memang tidak pernah mengungsi, tapi pertanian mereka rusak oleh debu Sinabung. Kehidupan perekonomian warga cukup memprihatinkan. Saat penyerahan bantuan di Desa Batukarang, warga menangis. Mereka yang selama bekerja di ladang sendiri harus pergi “ngemo’ ke desa lain karena ladang mereka tidak lagi menghasilkan,” katanya.

Logistik yang disalurkan berupa 10 kg beras, 2 kg gula, 1 liter minyak goreng.

Kabid Diakonia Moderamen GBKP Pdt Rosmalia Barus selaku Ketua Posko Penanggulangan Bencana GBKP  bersama Kabid Dana dan Usaha Dk Khristiani Br Ginting selaku bendahara posko dan Pdt DS Pandia saat menyerahkan bantuan di Desa Susuk, Selasa, 20 Maret 2018 menyatakan, Moderamen cukup prihatin dengan kehidupan masyarakat di desa  terdampak Sinabung. Bantuan yang disalurkan cukup sederhana, namun diharapkan bisa membantu jemaat. Dalam susana susah, jemaat diharapkan tetap tegar, iman dan pengharapan tidak kurang. Jadi saksi Kristus untuk lingkungan sekitar.

“Komunikasi juga diharapkan  tetap terjalin, bila ada perlu penanganan khusus, disampaikan kepada runggun gereja untuk mencari solusi,” kata Pdt Rosmalia.

Selain menyalurkan bantuan, GBKP bekerja sama dengan pemerintah, lembaga atau instansi yang peduli dengan korban Sinabung membuat berbagai aksi seperti trauma healing dan pemeriksaan kesehatan terutama   bagi anak-anak yang merupakan generasi  penerus bangsa. Trauma healing  dilaksanakan antara lain di Desa Batukarang, Payung, Jandi Meriah, Sukatendel dan Rimokayu. Pemerhati Anak Kak Seto dari Jakarta juga hadir  di Desa Batukarang dan Jandi Meriah untuk menghibur dan memotivasi  anak-anak dan para pelajar pasca erupsi 19 Februari untuk tetap semangat. GBKP juga membuat posko anak sehat lingkar Sinabung untuk menolong anak-anak untuk hidup lebih sehat.

Untuk menggalang kepedulian kepada korban Sinabung, Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba juga menyampaikan paparannya terkait situasi Sinabung terkini dan kehidupan warga di sekitarnya pada Workshop Perencanaan Strategis Menyikapi Kebijakan BODT dan Bencana Sinabung yang diselenggarakan UEM di Sopo Toba, Tomok pada 27 Februari-1 Maret 2018. Di situ dijelaskan antara lain ada 110 desa di 10 kecamatan yang terdampak abu vulkanik, lahar dingin.  Tatanan pertanian, infrastruktur dan fasilitas umum rusak,  pendidikan terganggu. Sebagian masyarakat mencari solusi dengan mengabaikan aspek lingkungan hidup. Selain itu, Moderamen juga membuat gerakan Rp10 ribu/kepala keluarga.

Pada akhirnya Moderamen  berterima kasih atas berbagai bantuan yang sudah mengalir dan tetap mengharapkan kepedulian berbagai pihak untuk membantu warga korban erupsi Sinabung.  Melala kalak erdiate la ban galangna tapi terakap man sideban. (Eva Rina Pelawi)

Minggu, 22 April 2018

Peringatan HUT Ke-128 GBKP, Tunjukkan Identitas Pengikut Kristus

Peringati HUT ke-128

Moderamen GBKP dan Jemaat Ziarah ke Makam Pekabar Injil di Sibolangit

Peringatan HUT ke-128 GBKP, Rabu (18/4-2018) diawali dengan ziarah ke makam pekabar Injil ke masyarakat Karo di Taman Marturia GBKP dan kebaktian  di GBKP Runggun  Sibolangit. 

Dengan tema : Tetap  Menabur Berita Keselamatan  yang diambil dari Masmur 126 : 1-6, Ketua Bidang  Pembinaan Moderamen GBKP Pdt Yunus Bangun dalam khotbahnya mengatakan,  Bangsa Israel bebas dari penjajahan Babil bukan karena kekuatannya tapi karena kuasa Tuhan. Yang mustahil bagi manusia, mungkin bagi Tuhan. Yang penting ada iman pengharapan. 

Demikian juga dengan tokoh pekabar Inil dulu,  disebutkan karena panggilan, mereka rela meninggalkan zona nyaman  dan mengabarkan Injil kepada masyarakat Karo. Walau mereka menderita menghadapi berbagai tantangan namun mereka terus bekerja karena ada panggilan.  Mereka meyakini,  yang mereka kerjakan tidak akan sia-sia tetapi akan berbuah di masa depan. "Dan memang benarlah,  warga Karo kini telah mengenal Tuhan, " katanya. 

Masa sekarang ini,  katanya,  kita sebagai orang yang percaya kepada Kristus harus terus memberitakan Injil,  menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.  Banyak cara dan metode yang dilakukan dalam menyampaikan berita kesukaan. 

Gereja disebutkan,   hidup bukan hanya untuk gereja tapi untuk terang dunia. 

Sementara itu Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba dalam sambutannya mengatakan,  pengorbanan pekabar Injil tidak sia-sia,  masyarakat Karo telah menerima berita keselamatan. Perjuangan pekabar Injil dahulu yang menghadapi berbagai tantangan seperti kondisi daerah yang masih terbelakang, budaya yang sangat berbeda dengan daerah asalnya, sifat orang yang dilayani sangat keras harus menjadi motivasi bagi pelayan Tuhan sekarang ini. Bekerja hanya untuk kemuliaan Tuhan. 

"Dengan memandang perjuangan pekabar Injil tersebut,  mutasi di gereja seharusnya tidak jadi permasalahan lagi, " katanya. 

Pdt Agustinus juga mengajak semua warga gereja untuk merenungkan perjalanan gereja Tuhan.  GBKP 128 tahun,  bagaimana sudah kualitas iman jemaat dan perkembangan  dan partisipasi jemaatnya. memberitakan Injil katanya merupakan tugas semua orang yang percaya.  Karena itu identitas sebagai pengikut Kristus harus ditunjukkan. 

Pada  kesempatan itu dilakukan tiup lilin dan pemotongan "tumpeng cimpa matah" oleh Ketua Umum Moderamen didampingi Sekum Pdt Rehpelita  Ginting dan Moderamen lainnya serta dibagikan kepada pengurus unit pelayanan dan kategorial.

Pada hari yang sama,  juga dilaksanakan seminar tentang sampainya berita keselamatan kepada orang Karo dengan narasumber Pdt Mehamat Wijaya Tarigan dan Pdt Kongsi Kaban di Kantor GBKP Klasis Sibolangit. Kedua narasumber memaparkan tentang perjuangan pekabar Injil  dari Belanda dan Sulawesi Utara kepada masyarakat Karo. 

Sementara itu panitia yang diwakili Pdt Surya Sembiring dan Pdt Lisa mengatakan, sebagai rangkaian  perayaan HUT ke128 GBKP, pada 20 April mendatang dilaksanakan aksi kebersihan di seluruh GBKP.  (Eva Rina Pelawi)

Minggu, 17 Desember 2017

GBKP Diminta Terbitkan Buku Putih Pengungsi Sinabung


Kunjungi Pengungsi Sinabung, UEM Minta GBKP Terbitkan Buku Putih Kehidupan Pengungsi Sinabung

 

GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) diminta untuk menerbitkan buku putih tentang situasi dan kondisi pengungsi korban erupsi sinabung yang hingga saat ini belum tertangani dengan baik.  Buku itu akan disampaikan kepada semua instansi terkait dan juga Presiden Jokowi yang mungkin belum mengetahui kondisi ril di lapangan.

Hal itu disampaikan Moderator UEM (United Evangelical Mission) Ephorus Emeritus Pdt  WTP Simarmata  bersama pimpinan gereja anggota UEM di Sumatera Utara  di Kantor Moderamen GBKP di Kabanjahe seusai perkunjungan solidaritas ke posko pengungsian korban erupsi Sinabung Terung Peren Desa Tiganderket,  Karo, Jumat (15/12-2017). 

“Kita akan upayakan bertemu pimpinan instansi terkait dan anggota legislative dari berbagai tingkatan menjelaskan kondisi sebenarnya tentang para pengungsi tersebut. Karena apa yang dialami para pengungsi sangat memilukan. Para pengungsi disuruh mencari rumah sendiri dan mandiri dengan dana terbatas. Ini mungkin Presiden Jokowi tidak tahu. Mereka seperti Abraham disuruh Tuhan pergi tapi tak tahu mau kemana,” kata Pdt WTP.

Pdt WTP bersama  Ketua Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba,  Ephorus GKPS Pdt Rumanja Purba, Ephorus HKI Pdt M Pahala Hutabarat, Kepala Departemen Diakonia HKBP Pdt Debora Sinaga, Kepala Departemen Diakonia GKPI dan perwakilan Pimpinan GKPPD dan BNKP serta Kepala Kantor UEM Medan Pdt Petrus Sugito menyatakan keprihatinannya melihat kondisi tenda-tenda tempat tinggal 276 kepala keluarga dari Desa Mardinding yang dinilai tidak layak huni, fasilitas umum yang tidak memadai seperti kondisi toilet dan air  yang dimanfaatkan untuk minum mengeluarkan bau belerang.

Sekaitan dengan itu,  Pdt WTP Simarmata mengajak semua  gereja anggota UEM untuk memanfaatkan chanel yang dimiliki untuk membantu  mengatasi permasalahan masyarakat pengungsi Sinabung. 

Dikesempatan itu Kabid Diakonia Moderamen GBKP Pdt Rosmalia Barus menceritakan sejak awal kehidupan para pengungsi dan  situasi terkini yang dihadapi oleh masyarakat.  Para pengungsi yang telah menyewa rumah sendiri terus dipantau melalui pendeta-pendeta yang ada di tengah jemaat. Dia juga menyebutkan perlunya dibuat Perda oleh Pemkab dan DPRD Karo tentang penanggulangan bencana. Dengan adanya Perda tersebut,  jadi jelas penangan bencana.

Bantuan

Pada perkunjungan itu disampaikan, UEM  telah mengalokasikan  dana 20.000 Euro untuk pengungsi dan diserahkan sejumlah bantuan berupa beras, minyak goreng, gula, buku, kaus kaki untuk perlengkapan sekolah serta sejumlah uang tunai dari gereja.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari  seorang pengungsi Pt Ahmad Jani Singarimbun,  di pengungsian tersebut  ada 276 keluarga yang  berasal dari Desa Mardingding .Keluarga-keluarga ini sudah tinggal di tenda-tenda pengungsian tersebut selama  2 tahun  6 bulan. Sejak 2010 mereka sudah mengungsi berpindah-pindah tempat dan sempat kembali ke desa mereka, namun harus mengungsi lagi karena Gunung Sinabung terus erupsi hingga kini.

Pada pertemuan tersebut, perwakilan  pengungsi menyatakan keresahannya karena akhir tahun ini mereka harus meninggalkan posko dan mencari tempat tinggal sendiri. Pemerintah telah memberikan dana Rp6,4 juta untuk sewa rumah dan lahan. Sementara mereka tidak tahu bagaimana untuk mencukupi kebutuhan hidup termasuk membiayai pendidikan anak mereka. Saat ini mereka ada yang bekerja di ladang orang dan ada yang mengontrak ladang.

“Tanggal 26 Desember adalah  Natal terakhir kami bersama, setelah itu kami harus berpisah mencari tempat tinggal kami masing-masing. Saya sedih bagaimana nasib anak-anak kami,” kata  Hermina Br Karo sambil berurai airmata.

Untuk ke depannya, mereka berharap kiranya mereka tetap diperhatikan untuk pendidikan,  diberi pendampingan seperti bidang pertanian  dan spiritualitas. Perhatian juga diharapkan diberikan kepada warga yang desanya terdampak erupsi seperti pembangunan irigasi agar mereka bisa menanam padi. Saat ini mereka kesulitan karena irigasi tidak berfungsi maksimal karena dihantam banjir lahar dingin.

Ketua Moderamen  Pdt Agustinus Pengarapan Purba dalam sambutannya mengatakan, gereja akan terus berada di tengah masyarakat dan tetap peduli.  Untuk memenuhi kebutuhan hidup, harus ada yang diprioritaskan, mana yang paling urgen ditangani. Untuk menolong warga, tidak cukup hanya satu lembaga yang menangani, karena itu akan tetap dicari lembaga-lembaga lain yang ikut peduli terhadap pengungsi sinabung. Banyak cara Tuhan untuk menolong.Sementara saat ini,  gereja memperioritaskan bantuan dana yang ada untuk menutupi biaya pendidikan anak-anak pengungsi seperti pembayaran uang sekolah/kuliah, penyusunan skripsi dan lainnya.

Sementara itu Pdt WTP Simarmata dalam sambutannya menyebutkan, kunjungan mereka sebagai bentuk solidaritas UEM  yang berpusat di Jerman dan melayani di 3 benua yakni Eropa, Asia dan  Afrika untuk saling mendoakan, bersaksi dan berbagi. Karena dalam kebersamaan ada kekuatan. Walau ada perbedaan harus saling menghormati, perbedaan bukan untuk menciptakan konflik tapi melengkapi.

Pdt WTP mengajak semua warga pengungsi untuk tetap kuat dan tabah dalam menghadapi percobaan. Tuhan mengizinkan erupsi terjadi karena  Dia ingin kita semakin dekat dengan-Nya. Dalam berbagai cobaan, Dia memberi kekuatan agar umat-Nya bertahan. Orang yang sukses, mereka yang berhasil menghadapi tantangan.  Perlu kesabaran.Tuhan tidak akan meninggalkan masyarakat Karo.

Dia juga menyebutkan, akan membawa permasalahan pengungsi sinabung dalam rapat dan kegiatan UEM yang dalam waktu dekat dilaksanakan.

Dalam memenuhi kebutuhan hidup, Pdt WTP mengajak kaum ibu bijak. Jangan putus asa, doanya pasti akan didengar Tuhan.

Turut memberi kata penguatan Pdt Rumanja Purba dan Pdt Debora Sinaga.(Eva Rina Pelawi)

 

 

 

 




Gereja Tidak Berpolitik Praktis


Natal GBKP 10 Klasis Medan Sekitarnya Meriah

 

Ketua Moderamen GBKP : Gereja Tidak Terlibat Dukung-mendukung Peserta Pilkada

 

Lubukpakam

GBKP secara instituisi tidak terlibat dalam dukung-mendukung  salah satu calon dalam pemilihan kepala daerah maupun pemilihan legislatif.Gereja berperan memberi pencerahan kepada jemaat. GBKP  berkiprah dan berkarya dalam mendukung pemerintah dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). GBKP tidak berpolitik praktis.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum Moderamen GBKP Pdt Agustinus P Purba dalam sambutannya saat perayaan Natal Koordinasi GBKP 10 Klasis Medan Sekitarnya, Minggu (3/12) di Openstage, Lubukpakam. Disebutkan, GBKP sesuai dengan visinya menjadi berkat bagi dunia, menyuarakan suara kenabian menjadi garam dan terang.  Bagi anggota gereja yang ikut berkompetisi dalam pemilihan hendaknya bisa menjaga identitas sebagai anak-anak Tuhan. Jadi nantinya siapapun  yang terpilih jadi kepala daerah, hendaknya jadi pemimpin yang berjuang untuk kesejahteraan warganya. Pertanggungjawabannya kepada Tuhan

Sementara itu Pdt Rehpelita Ginting yang jadi pengkhotbah dalam perayaan Natal tersebut mengatakan, banyak orang yang bangga akan jasa-jasanya dan kemampuannya. Dia mengandalkan kekuatannya. Orang yang demikian tidak akan mampu melihat dan mengerti karya Allah dalam kehidupannya.

“Dan kita jangan lupa, karya dan perbuatan  itu tidak akan mampu menyelamatkan kita. Hanya melalui Kristuslah keselamatan ada,” kata Pendeta, yang juga Sekretaris Umum Moderamen ini.

Sesuai dengan tema “Yesus Kristus  Kepenuhan Rahasia Allah yang Disingkapkan Bagi Manusia (Bandingkan Roma 16:25-27) dan subtema : Pemahaman akan kehendak Allah memampukan gereja menyukseskan tahun politik dan memperbaharui hubungan dengan seluruh ciptaan,” Pdt Rehpelita menyebutkan, Kristus lahir untuk keselamatan umat yang percaya. Rahasia Allah disingkapkan, kabar kesukaan bagi yang mau menerima.

Sekaitan dengan tahun politik yang dicanangkan GBKP tahun depan disebutkan,   dalam memilih kita harus benar-benar selektif. Jangan hanya karena suatu pemberian, langsung dipilih walaupun kita tahu dia bersama.

“Itu sering terjadi dalam pemilihan pertua/diaken di gereja. Sudah tahu bermasalah tetapi dipilih juga. Akibatnya ke depan banyak permasalahan yang terjadi. Jadi ke depannya, jangan dipilih yang bermasalah,” katanya.

Natal dengan Liturgis  Pdt Bandri S Sembiring dan  Pdt Mart Erkelinna Br Tarigan tersebut  diisi dengan pemasangan lilin yang dilakukan antara lain Ketua Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba, Pengkhotbah Pdt Rehpelita Ginting, Pdt Maslan Sitepu, mewakili Bupati Deliserdang Haris Binar Ginting, Bupati Simalungun JR Saragih, Ketua Panitia Pdt Darius Sembiring dan lainnya. Selain itu juga ditampilkan koor Moria, Mamre, pantomim dengan tema Allah menciptakan dan drama Kelahiran Kristus yang dibawakan oleh Permata (Kaum Muda ) GBKP Klasis Lubukpakam dengan kreatif.

                Bupati Simalungun JR Saragih yang hadir pada kesempatan tersebut dalam kata sambutannya menyatakan kekagumannya melihat peran kaum muda gereja yang mewarnai acara kebaktian, yang membuat warna Natal tersebut berbeda  dengan Natal yang selama ini disaksikannya. JR berharap, generasi muda terus dibina, diberi ruang kreasi agar mereka bisa terus bertumbuh. Karena gereja tanpa generasi muda akan mati.

                Sementara itu Ketua Koordinasi GBKP 10 Klasis Medan Sekitar Pt Em Timbangen Ginting mengatakan, perayaan Natal tersebut dilaksanakan untuk hanya untuk kemuliaan nama Tuhan dan menunjukkan eksistensi GBKP dalam naungan Moderamen. Sedangkan Ketua Panitia Perayaan Natal Pdt Darius Sembiring didampingi Pt Jetra Sembiring dan Bendahara Levina Peranginangin mengungkapkan rasa syukur  karena Natal berlangsung hikmat dan cuaca juga sangat mendukung.

Acara Natal yang dihadiri ribuan jemaat yang datang dari Deliserdang, Medan, Binjai dan Langkat diawali dengan prosesi para pendeta dengan panitia  dimeriahkan dengan hadirnya artis Lyodra Br Ginting dan Trio Alan Dhani Sitepu serta lucky draw dengan berbagai hadiah.(Eva Rina)

 

 

Jumat, 01 Desember 2017

Natal GBKP 10 Klasis Medan Sekitar

3 Desember Natal GBKP 10 Klasis Medan Sekitar di Lubukpakam

Medan

Memperingat hari kelahiran Kristus,  GBKP 10 Klasis Medan sekitarnya merayakan Natal di Open Stage Lubukpakam,  Minggu (3/12-2017).

Ketua Panitia Pdt Darius Sembiring didampingi Sekretaris Pt Jetra Sembiring dan Ketua Klasis Lubukpakam Pdt Bandri Senja Sembiring kepada wartawan,  Jumat (1/12) di Medan mengatakan,  perayaan Natal ini selain memperingati kelahiran Sang Juru Selamat,  juga untuk menjalin silaturahmi jemaat GBKP Medan sekitar dan persiapan pencanangan tahun gereja yang akan dilaksanakan awal tahun 2018. 

Dijelaskan,  dari perayaan Natal diharapkan jemaat semakin menyadari perannya di tengah gereja dan negara  dalam bingkai NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia).  Menjadi pembawa  damai dan saksi Kristus di tengah masyarakat  dan melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai tema perayaan  : Yesus Kristus  Kepenuhan Rahasia Allah yang Disingkap Bagi Manusia (Bandingkan Roma 16:25-27). Subtema : Pemahaman akan kehendak Allah memampukan gereja  menyukseskan  tahun politik dan memperbahurui hubungan dengan seluruh ciptaan.

Pdt Rehpelita Ginting yang juga Sekretaris Umum Moderamen akan dihadirkan menjadi pengkhotbah dan penyampai pesan Natal.

Perayaan Natal katanya direncanakan  dihadiri sekitar 4000 jemaat yang datang dari berbagai daerah antara lain dari Langkat,  Binjai,  Medan,  Deliserdang dan Serdang Bedagai.  Acara akan diisi dengan berbagai pujian bagi Kristus  yang ditampilkan anak-anak Tuhan yang telah  berlatih cukup lama.  Selain itu akan dihibur oleh artis Liyodra Br Ginting. Trio Alan Dhani Sitepu dan lainnya. (Eva R Pelawi)